Tag Archives: Citilink

PKGTA-1

PK-GTA: A320NEO pertama Citilink menuju Indonesia

NS-PK-GTA-01
Sinyal ADS-B PK-GTA tertangkap NEOSky selepas dari pantai Iran ketika sedang turun menuju Ras Al Khaimah.

Pesawat A320NEO pertama untuk Citilink akan tiba di Indonesia tanggal 23 Februari 2017 setelah delivery flight dari Toulouse (Prancis) melalui Ras Al Khaimah (UAE). Pesawat berangkat pada pukul 0930 waktu setempat (0830UTC), setelah terbang dengan ketinggian jelajah 39000 kaki, PK-GTA mendarat di Ras Al Khaimah pada pukul 1954 waktu setempat (1554UTC).

PKGTA-1
PK-GTA ketika singgah di bandara Ras Al Khaimah (RKT/OMRK). (Photo oleh Sean Mendis)

Pesawat pun hanya berhenti di Ras Al Khaimah selama 1 jam untuk pengisian bahan bakar. Menurut sumber setempat, pesawat membawa Augmented Crew (jumlah awak pilot yang lebih) agar tidak memerlukan pergantian crew ditempat singgah. Pesawat berangkat kembali sekitar pukul 2105 waktu setempat (1705UTC) langsung menuju bandara Soekarno-Hatta, Tangerang (CGK/WIII) dan diperkirakan akan mendarat pada pukul 0819WIB (0119UTC).

Apakah penerbangan sepanjang 3852NM ini akan menjadi penerbangan terpanjang A320 dan A320NEO standard selama ini?

PKGTA-2
PK-GTA sedang mengisi bahan bakar di Bandara Ras Al Khaimah (RKT/OMRK). (Photo oleh Sean Mendis)

Kebetulan, pesawat ber-registrasi PK-GTA (msn 7466) diberangkatkan dari Toulouse pada ulang tahun ke-30 pesawat Airbus A320.

citilink-note7-20-01-640

Koreksi Cepat Kesalahan Imbauan Citilink: Contoh Manajemen Yang Responsif

Kesalahan imbauan mengenai penggunaan perangkat eletronik khususnya Galaxy Note 7 yang terjadi di situs Citilink sudah di koreksi, diganti dengan himbauan yang tidak lagi ambigu dan menggunakan referensi yang sesuai sebagai maskapai penerbangan Indonesia.

citilink-note7-20-01
Imbauan oleh Citilink khusus Samsung Galaxy Note 7 yang telah dikoreksi dan diterbitkan hari ini (28 September)

Koreksi yang digunakan oleh Citilink antara lain adalah:

  • Status diubah dari imbauan menjadi larangan
  • Koreksi butir kedua dari “Tidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam bagasi kabin pesawat” (yang salah dan ambigu) menjadi “Tidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam bagasi tercatat (checked baggage)
  • Mengubah acuan dari pengumuman FAA ke surat edaran Kemenhub tanggal 13 September 2016 (SE 18 / 2016)
  • Mengubah “himbauan” menjadi imbauan sesuai KBBI (dimana saya sendiri juga salah di artikel sebelumnya)

citilink-note7-13-1329Saya sendiri cukup cerewet kemarin kepada Citilink di Twitter dan Facebook setelah menulis artikel kemarin karena menurut saya tidaklah fair jika sayapun tidak memberi tahu mereka atas kesalahan tersebut. Pemberitahuan sayapun ditanggapi dengan baik oleh tim sosmed Citilink.

Namun di Facebook beberapa kawan saya juga mengimbau pihak Citilink mengenai kesalahan yang terjadi.

citilink-note7-12-1326Langkah² yang sudah diambil Citilink secara online:

  1. Penghapusan imbauan yang salah di halaman Facebook resmi Citilink (kemarin malam)
  2. Penghapusan tweet yang memuat imbauan yang salah tersebut di Twitter resmi Citilink (kemarin malam)
  3. Pengubahan gambar imbauan di halaman depan situs Citilink ke versi yang benar (kemarin malam masih ada tetapi siang ini sudah tidak ada).

Tim Sosmed tidak ngeyel atau mencari pembenaran kesalahan yang terjadi dan mungkin mereka membutuhkan keputusan untuk menarik imbauan² yang versi salah. Reaction Time yang sekitar 6 jam memang belum ideal, namun sudah cukup cepat di dunia penerbangan Indonesia berdasarkan pengalaman saya. Saya sendiri sempat sedikit putus asa tadi malam ketika melihat imbauan yang salah masih tertayang di halaman web Citilink, namun 24 jam setelah pemberitahuan versi yang telah dikoreksi sudah menggantikan yang salah.

Yang paling impressive buat saya adalah koreksi acuan yang dilakukan oleh Citilink dari pengumuman FAA ke surat edaran Kemenhub, untuk imbauan² dan materi² imbauan mengenai Samsung Galaxy Note 7 yang diterbitkan setelah 13 September 2016. Ini baru namanya maskapai penerbangan Indonesia!

Koreksi oleh Citilink ini menurut saya patut mendapat pujian, membuat kesalahan adalah manusiawi, dan ketika sadar akan terjadinya kesalahan maka langkah² korektif langsung diambil untuk mencegah akibat² yang tidak diinginkan. Sifat inilah yang seharusnya diambil oleh sebuah maskapai penerbangan terutama dalam aspek keselamatan, dimana kesalahan² yang terjadi harus diperbaiki, bukan dihukum atau ditutup-tutupi. Terima Kasih Citilink!

citilink-note7-11

Did Citilink just told people to put Galaxy Note 7 in checked baggage?

With all the attention given to the Galaxy Note 7, advisories regarding its handling for airlines require advisories that are clear and consistent for the sake of safety. Many Indonesian airlines have issued advisories/guidelines/rules regarding the Galaxy Note 7, and are mostly clear and consistent. However, this morning I was shocked when someone sent me the following picture, that includes a fatal error.

citilink-note7-01

Safety Advisory for all Samsung Galaxy Note 7 Users:

  • Do not activate and/or charge the battery of the device while on board the aircraft.
  • Do not stow the device in your baggage in the cabin
  • Report to the crew when when you have problems with the device (excessive heat, smoke, missing, fallen from your seat).
What’s wrong with this?

Have a look at the second point:

  • Do not stow the device in your baggage in the cabin

where is the problem? The use of the phrase “baggage in the cabin” in English is clear enough, but in Indonesian the context can be ambiguous as it means I am not allowed to stow it in a bag in the cabin, which means I have to carry it with me, or it gets stowed in my baggage that is not in the passenger cabin (ie: checked baggage that goes in the hold).

In the advisory, Citilink quoted the FAA’s statement on the Galaxy Note 7:

In light of recent incidents and concerns raised by Samsung about its Galaxy Note 7 devices, the Federal Aviation Administration strongly advises passengers not to turn on or charge these devices on board aircraft and not to stow them in any checked baggage.

So if the FAA tells people to not stow them in any checked baggage, why does Citilink tell people to not stow it in the cabin (which means stowing it in the luggage hold if you’re not carrying the phone)?

Language issue gone bad?

In my opinion, this “inconsistency” comes from a chronic problem in understanding or translating English into Indonesian, which is an industry wide problem in aviation (and one that is hard to correct because when it comes to English, the “senior is always right” culture is quite strong). The advisory is also displayed at the airline’s web homepage:

citilink-note7-10

Ironically, the running text also contains the correct version of the advisory on the Galaxy Note 7:

Demi menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan bersama  Citilink Indonesia mengimbau kepada seluruh penumpang untuk menonaktifkan seluruh peralatan elektronik, terutama Samsung Galaxy Note 7, dan tidak melakukan pengisian baterai selama penerbangan, serta tidak memasukkannya ke dalam bagasi.

Translated, it means:

In the interest of safety and security, Citilink Indonesia advises passengers to switch off all eletronic devices, especially the Samsung Galaxy Note 7, and to not charge batteries, during flight, and to not stow them in your baggage.

Baggage, in the absence of other words, normally means, checked baggage.

So now we have conflicting advisories on the SAME WEBPAGE!

citilink-note7-11

For those interested, the Directorate General of Civil Aviation (DGCA) issued a circular on the first working day after the FAA statement (the Monday being the Eid-Al-Adha holiday), which, while in Indonesian, stated correctly that lithium batteries, power banks, and Samsung Galaxy Note 7, should not be stowed in checked luggage.

se18-2016-note7-2

se18-2016-note7-1

There is no ambiguity in the circular. However, the erroneous version issued by Citilink only started appearing today (27 September). Surely it would be better for Citilink to refer to the DGCA circular which is not in error rather than mistranslating the FAA statement. It would be wise for Citilink to expeditiously remove all erroneous advisories on this matter to prevent misunderstandings out on the field that could have fatal consequences, and to replace them with correct, consistent, and unambigious revised advisory, as soon as possible.

Pertanyaan saya sekarang adalah akankah himbauan Citilink tersebut diubah agar selaras dengan surat edaran Kementerian Perhubungan dan FAA? Menurut saya, kalau mengutip himbauan FAA saja tidak benar, sebaiknya dasar acuan himbauan maskapai ini diubah dari FAA ke Kemenhub daripada bikin bingung dan mungkin malah malu²in. Yang pasti himbauan yang ambigu dan berpotensi mengakibatkan kesalahan fatal dilapangan, harus diganti dengan yang konsisten dan tidak ambigu secepatnya!

citilink-note7-11

Himbauan ambigu fatal Citilink mengenai Samsung Galaxy Note 7 butuh diganti secepatnya

Rame² masalah Galaxy Note 7 ini memerlukan himbauan yang jelas dan konsisten demi keselamatan bersama. Banyak maskapai² Indonesia yang menerbitkan himbauan mengenai Galaxy Note 7, dan rata² benar. Namun pagi ini saya dikagetkan dengan kiriman gambar berikut yang terdapat sebuah kesalahan fatal:

citilink-note7-01

Ada yang tahu ini salahnya apa?
  • Apakah karena mengacu ke FAA dan bukan ke Kemenhub? OK, ini memang masalah tetapi bukan yang saya ingin utarakan di artikel ini.
  • Apakah masalah himbauan yang seharusnya menjadi larangan? Bukan itu juga.
Jadi apa dong?

Coba lihat butir kedua himbauan tersebut:

“Tidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam bagasi kabin penumpang”

Masalahnya dimana? Penggunaan kata “bagasi kabin penumpang” sedikit berpotensi ambigu, namun pengertian saya adalah saya tidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam tas di kabin penumpang. Artinya, harus saya bawa diluar tas saya, atau saya masukan ke bagasi yang tidak berada di kabin penumpang.

Ini kok jadi aneh yah? Citilink menggunakan edaran FAA sebagai sumber. Edaran FAA tersebut menyatakan:

In light of recent incidents and concerns raised by Samsung about its Galaxy Note 7 devices, the Federal Aviation Administration strongly advises passengers not to turn on or charge these devices on board aircraft and not to stow them in any checked baggage.

Lha, FAA sendiri menghimbau agar penumpang tidak menyimpan Galaxy Note 7 di bagasi yang di check-in, alias tidak masuk di bagasi yang tidak berada di kabin penumpang. Kok Citilink malah menganjurkan agar tidak menyimpan perangkat ini di bagasi kabin penumpang (artinya, disuruh masukin di bagasi yang tidak berada di kabin penumpang).

KOK BISA?

Ini menurut saya merupakan masalah pengertian Bahasa Inggris yang cukup fatal. Di situs Citilink, himbauan ini juga dipasang.

citilink-note7-10

Anehnya, disitu ada tertulis running text himbauan mengenai Galaxy Note 7, dimana tertulis:

Demi menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan bersama  Citilink Indonesia mengimbau kepada seluruh penumpang untuk menonaktifkan seluruh peralatan elektronik, terutama Samsung Galaxy Note 7, dan tidak melakukan pengisian baterai selama penerbangan, serta tidak memasukkannya ke dalam bagasi.

Nah, ini baru konsisten dengan himbauan dari FAA (dan Kemenhub).

LHA KOK BEDA SAMA YANG GAMBAR DI HALAMAN SITUS YANG SAMA?

citilink-note7-11

Saya pribadi ingin tahu sebenernya, Citilink ini maskapai Indonesia atau maskapai Amerika Serikat? Bukankan maskapai Indonesia harusnya patuh terhadap peraturan Indonesia dan bukan peraturan negara lain? Mungkin akan ada yang mengeles bahwa “waktu itu kan yang ngeluarin FAA duluan, abis itu baru diikuti oleh Kemenhub.” OK baiklah, memang benar, Kemenhub baru mengeluarkan surat edaran mengenai Galaxy Note 7 ini pada hari kerja pertama setelah FAA mengeluarkan himbauannya (maklum, waktu itu memang long weekend Idul Adha). Apa sih isi edaran Kemenhub tersebut?

se18-2016-note7-2

se18-2016-note7-1

Kita lihat edaran tersebut menggunakan bahasa yang tidak ambigu, dimana edaran meminta dengan sangat untuk tidak menempatkan baterai lithium, power bank, dan Samsung Galaxy Note 7 dalam bagasi tercatat (checked baggage).

Pertanyaan saya sekarang adalah akankah himbauan Citilink tersebut diubah agar selaras dengan surat edaran Kementerian Perhubungan dan FAA? Menurut saya, kalau mengutip himbauan FAA saja tidak benar, sebaiknya dasar acuan himbauan maskapai ini diubah dari FAA ke Kemenhub daripada bikin bingung dan mungkin malah malu²in. Yang pasti himbauan yang ambigu dan berpotensi mengakibatkan kesalahan fatal dilapangan, harus diganti dengan yang konsisten dan tidak ambigu secepatnya!

488

LCC boss heads Garuda: What to expect?

488
Citilink A320 vacates the runway at Jakarta Soekarno-Hatta Intl Airport near Garuda’s main apron. (Photo by V2, with permission)

As Garuda replaces it’s CEO Emirsyah Satar with its LCC subsidiary boss, Arif Wibowo of Citilink, another flag carrier group headed by a former LCC boss, is having changes too.

Qantas group, like Garuda, is headed by someone who formerly headed its LCC subsidiary. Alan Joyce, formerly headed Jetstar before taking the helm of Qantas. The continuing woes at Qantas, saw 2 CEOs within the group leave today. CEO of Qantas International Simon Hickey and CEO of Qantas Domestic Lyell Strambi both resigned today.

Whilst I like to poke fun at Joyce, the fact is that investors seem to have confidence in him, whether they want to admit it or not, the Qantas share price have doubled throughout 2014. Of course, for Qantas to survive, it had to take drastic measures, and offload some of its market share to the more efficient Jetstar. It ended up conceding the Kangaroo route battle by tying up with Emirates (despite Qatar being in OneWorld) in order for Qantas to focus on defending its Asian and Pacific markets. These, and probably countless of other unpopular decisions, while easy to shoot at, are mostly necessary for the survivor against the onslaught of the Middle Eastern big 3 airlines, and the LCCs in domestic and regional markets.

If we look at the case of Garuda, as soon as rumors of Arif Wibowo becoming the candidate be the next Garuda CEO, the share price rose. Be the increase coincidental or not, investors seem to have faith that he can pull Garuda out of the financial demise. His track record in Citilink has proved his ability to “leave old habits behind”, as under his helm, Citilink was able to change from the “state owned enterprise” mentality that plagued the various iterations of Citilink in the past.

From what I personally know of Arif Wibowo (which is not much), he is not the type of boss that likes to sit and “play being a  boss.” This guy knows his stuff! Words like CASK, RASK, utility, cost index, etc, spews out of his head with little trouble. I experienced that whilst walking with him through a shopping mall from a meeting onto an airline event, and the numbers he said
were said with confidence and weight that was obvious to me they didn’t just come out of thin air (his personal tablet is continuously used to calculate, look at documents, etc).

So what to expect? He already said he will focus on 3 things:

  • Profitability
  • Cost Control
  • Adequate Finance

I wouldn’t be surprised if he decides to close unprofitable routes in the near future, and some of those routes may surprise some. Don’t be surprised if those route closures end up being unpopular.

I wouldn’t be surprised either if the product is changed or downgraded (without becoming cheapskate), after all, he was heading Garuda’s sales and marketing before heading Citilink, and those were the days when the sales of Garuda helped the financial turnaround and the products were right for the day. Let’s face it, the days of full service high-end carriers ruling the skies in short haul is history. We’ve seen it in Europe where flag carriers have become hybrid carriers (full service and LCC style products). And what Citilink offered to the passengers, seemed more in tune with what was wanted compared with its competitors. This guy seems to know what the passengers want.

Cost control will probably be the least popular aspect of his strategy. Well, let’s face it, Garuda has the highest cost per available seat in the country for a mainline carrier (since the demise of Merpati, whose CASK seemed beyond the ridiculous). Let’s look at the flag carriers in Europe facing the onslaught of ME3 and the LCCs, and look at Qantas. While I admit it’s easy and fun to poke fun at these decisions, the measures were necessary to ensure long-term survival of the company, and I as a critic, would probably only offer alternatives that aren’t too different.

As for adequate finance, it’s obvious that Garuda’s problems cannot be solved quickly if true change is to be made. Finance is needed to ensure the company survive throughout the change period. The need for adequate finance throughout a period of change, is nothing new for Garuda. They did it under the Robby Djohan, Abdul Gani, and Emirsyah Satar eras.

So what to expect from Garuda? Without reinventing the wheel, we can look at what happened to Qantas as the other flag carrier headed by a former boss of its LCC subsidiary. Beyond that, we can look at the struggles the European flag carriers had to go through. Nothing’s new. Reality has to catch up with Garuda eventually, and I for one am relieved they seem to have the right CEO this time.

GIAA-Share

Garuda dapat bintang 5 dan ganti DirUt dari LCC

gaGaruda Indonesia baru saja mendapatkan status 5-star airline oleh Skytrax setelah berjuang cukup lama dalam memperbaiki produknya. Namun, begitu mendapatkan penghargaan ini, Garuda Indonesia juga mengganti direktur utama Emirsyah Satar dengan Arif Wibowo yang sebelumnya adalah direktur utama anak perusahaannya, Citilink.

Strategi Emirsyah Satar untuk mengejar peringkat 5-star dari Skytrax meskipun bagus tetap menimbulkan pertanyaan mengenai performa laba/rugi Garuda. Kerugian tahun ini diperkirakan mencapai $200 juta, dan harga sahamnya sempat turun ke Rp. 415, nilai terendah sejak IPO. Anehnya, harga saham Garuda mulai naik ketika mulai muncul kabar bahwa Emirsyah Satar akan diganti di bulan Desember, dimana harga saham melonjak ke Rp. 540, sebelum turun kembali ke RP. 462. Ketika bulan Desember tiba, harga saham terus meningkat hingga RP. 625 dan bertahan tidak jauh dibawah nilai tersebut satu minggu ini.

GIAA-Share
Harga saham Garuda Indonesia sejak awal 2013 dan efek kabar akan digantinya Direktur Utama sejak Q3 2014 (Chart: Yahoo)

Sepertinya pasar, meskipun sangat menghargai apa yang dilakukan oleh Emirsyah Satar untuk memperbaiki Garuda, merasa bahwa waktunya sudah tiba untuk perubahan lanjut. Strategi yang mungkin tepat di dekade lalu belum tentu tepat untuk masa kini.

Direktur utama baru Garuda Indonesia, Arif Wibowo, sebelumnya menjabat sebagai direktur utama Citilink dimana beliau berhasil membawa Citilink menjadi salah satu pemain besar di pasar domestik Indonesia sekaligus mengurangi kerugiannya. Hal ini dilakukan di saat kompetisi sengit, tidak hanya di pasar penumpang, tetapi juga untuk sumber daya manusia (khususnya pilot). Dengan beliau yang baru, saya malah diam² mulai prihatin apakah Citilink bisa melanjutkan suksesnya.

Ujung-ujungnya, sungguh ironis bagi saya bahwa ketika Garuda Indonesia mendapatkan rating 5-star airline oleh Skytrax, kepemimpinannya langsung diganti oleh kepala bisnis usaha LCCnya.

Apakah ini berarti akan ada banyak perubahan untuk membuat Garuda menjadi lebih efisien? Selamat bertugas dan good luck Pak Arif!

GIAA-Share

Garuda gets 5 stars and brings its LCC boss as new CEO

gaGaruda Indonesia has recently attained Skytrax 5-star airline status after an almost decade long effort to revamp its product. However, just as the award came, Garuda Indonesia also announced that Emirsyah Satar will step down and to be replaced by Citilink CEO, Arif Wibowo.

Many has questioned Satar’s strategy to pursue the 5 star Skytrax ratings as Garuda continues to make a loss. The loss for this year is estimated to be $200 million, and the shareprice went to IDR 415 per share, its lowest levels since the IPO. Interestingly, the shareprice began to rise when it was announced that Satar would be replaced in December, briefly going up to IDR 540, before dipping to IDR 462. As we entered December, the share price has been going up and peaked at around IDR 625 and has stayed there for this week.

GIAA-Share
Garuda Indonesia share price performance since start of 2013 and effect of CEO replacement news since end of Q3 2014

It seems that the market, although appreciate what Satar has done for turning around Garuda, feels that his time has come. What may have been the right strategy in the past decade, may no longer be applicable today and therefore it is time to find a new head to run a new strategy.

Arif Wibowo has brought Citilink to become a major player in the Indonesian domestic market while it continues to reduce its losses. This was achieved in extremely competitive conditions not only in the market but also in human resources, especially pilots. While I am confident Arif Wibowo can lead Garuda into brighter days ahead, I cannot help but wonder if Citilink can now continue its streak.

At the end of the day however, I find it extremely ironic that Garuda got 5-star Skytrax rating, it immediately replaces its CEO with the former head of it’s LCC subsidiary.

Will this bring a new set of changes at Garuda? Good luck Pak Arif!