Photo by: Aldo Bidini

Kejadian Lion Air: Tiketnya Changi-Jakarta kok terbangnya dari Johor Bahru?

Hari ini di Detik.com ada kabar dimana ada penumpang mengadu memegang tiket dari Singapore-Changi menuju Cengkareng, keberangkatannya dialihkan dari Johor Bahru. Hal ini memang agak unik dan sepertinya memang jarang terjadi. Namun ada beberapa hal yang menurut saya harus diluruskan.

Di awal artikel tersebut tertera:

Hal ini dikatakan seorang penumpang Lion Air yang tak mau disebutkan namanya pada detikcom, Kamis (30/3/2017) kemarin seperti ditulis Jumat (31/3/2017).

“Dua penerbangan Lion Air dari Singapura-Jakarta pada Rabu lalu bermasalah. Penerbangan nomor JT 151 dan 159 dari Changi Singapura ke Jakarta, ternyata tidak ada penerbangan itu,” jelas penumpang itu.

JT 151 seharusnya berangkat pada Rabu (29/3) pukul 19.30 waktu setempat dan JT 159 seharusnya berangkat di hari yang sama pukul 21.20 waktu setempat. Para penumpang juga sudah menggenggam boarding pass.

Lalu ada juga tulisan seperti ini:

Di Johor Bahru, para penumpang itu diterbangkan dengan maskapai Malindo Air yang juga afiliasi Lion Air Group ke Cengkareng Jakarta pada pukul 04.00 waktu setempat dan sampai di Cengkareng sekitar pukul 07.00 WIB.

Menurut artikel tersebut, pagi ini (31MAR) ada mediasi antara penumpang dan Lion Air.

Mari kita kembali ke 3 point dari artikel tersebut.

  1. Penerbangan Nomor JT151 dan 159 dari Changi Singapura tidak ada.
    Saya melakukan penelusuran menggunakan sumber informasi independen yaitu rekaman ADS-B pesawat, kali ini saya menggunakan jasa yang ada di situs Flightradar24. Hasilnya adalah sebagai berikut:

    JT-JHB-SIN-JT151
    Catatan penerbangan JT151 beberapa hari terakhir di Flightradar24


    JT-JHB-SIN-JT159
    Catatan penerbangan JT159 beberapa hari terakhir di Flightradar24

    Untuk JT151 memang benar tidak ada penerbangannya, namun JT159 ada, dan diterbangkan oleh PK-LKO. Pesawat mulai bergerak sekitar 2207 waktu setempat, dan lepas landas jam 2223 waktu setempat, dan mendarat di Soekarno Hatta pada pukul 2241WIB.

  2. Tiba di Jakarta pukul 0700.
    Kalau kita lihat rekaman JT3151 pada 30 Maret 2017, penerbangan diterbangkan oleh PK-LHR, berangkat dari Johor Baru sekitar 0424 waktu setempat, dan tiba di Jakarta pada pukul 0451WIB.

    JT-JHB-SIN-JT3151
    Hanya ada satu penerbangan JT3151 tercatat di Flightradar24, yaitu pada hari kejadian.
  3. Diterbangkan pesawat Malindo.
    Pesawatnya yang digunakan adalah JT3151, nomor penerbangan JT adalah Lion Air (Indonesia), pesawat PK-LHR adalah pesawat yang dioperasikan Lion Air, bukan Malindo.
Kesimpulan mengenai claim penumpang

OK, berarti claim JT159 tidak terbang tidaklah benar, dan claim JT3151 mendarat di Jakarta pada pukul 0700 juga tidak benar. Namun, apa yang terjadi dengan JT151? Setelah ditelusuri, ditemukan bahwa ternyata aslinya, JT151 mau diterbangkan oleh PK-LKO.

JT-JHB-SIN-PK-LKO
Catatan penerbangan PK-LKO sekitar tanggal kejadian, di Flightradar24.

Apakah PK-LKO sempat rusak? Atau mungkin terkena masalah lain? Kalau saya boleh menebak-nebak, mari kita lihat kronologisnya:

  1. Penumpang sudah sempat memegang boarding pass, dan boarding passnya adalah boarding pass cetak bandara, bukan boarding pass cetak sendiri. Ini artinya, bahwa pada saat penumpang check-in di bandara, pesawat JT151 masih direncanakan akan terbang.
  2. Rekaman di FlightRadar24 sempat memperlihatkan JT156 akan terbang menggunakan PK-LKO (dimana biasanya setelah JT156 mendarat, dia akan kembali ke Jakarta sebagai JT151).
  3. Sebelumnya, PK-LKO mendarat di Soekarno-Hatta pada pukul 1528WIB sedangkan JT156 jadwal keberangkatannya adalah 1615WIB, yang waktunya seharusnya cukup.
Apa yang terjadi dengan PK-LKO hari itu?

Kalau PK-LKO sempat rusak, kemungkinan untuk harus membatalkan penerbangan tetapi langsung bisa terbang menerbangkan penerbangan berikutnya sangat kecil menurut saya, kecuali terjadi satu hal yang banyak penumpang masih belum terbiasa, yaitu ketinggalan slot, dimana kalau pesawat terlambat karena alasan apapun (termasuk penumpang lambat boarding), pesawat bisa kehilangan jatah penggunaan slot runway.

Akibat masalah Slot kurang disosialisasi

Sayangnya, masalah slot ini sosialisasinya ke masyarakat masih sangat lemah, dan ditambah lagi dengan penjelasan yang diberikan oleh maskapai yang sering kali malah “bunuh diri” (slot hilang, tidak bisa terbang, malah bilangnya “tidak dapat ijin terbang”). Harus diingat pula, di minggu ini ada hari Nyepi pada tanggal 28, tidak sedikit yang melakukan perjalanan liburan minggu ini. Ada kecenderungan penumpang terlambat di masa-masa seperti ini. Toleransi slot time hanya diberi 15 menit, dan akibatnya, harus menunggu adanya slot lagi di tempat keberangkatan, dan di tempat kedatangan! Waktu di awal-awal penerapan slot ini, sering terjadi boarding telat sedikit, dan pesawat akhirnya kehilangan slot dan penumpang harus menunggu berjam-jam (ada yang sampai 9 jam!). Bisa jadi, JT156 dan 151 “batal” terbang karena ini.

Masalah slot ini juga bisa menjelaskan kemungkinan alasan kenapa JT3151 akhirnya diterbangkan dari Johor Bahru dan bukan dari Singapura. Di jam-jam segitu, bandara Changi memang penggunaan slotnya padat sekali sehingga mungkin ada slot yang bisa digunakan di Soekarno-Hatta tetapi tidak ada slot yang cocok di Changi. Ini bisa mengakibatkan maskapai berpikir agar penerbangan dioper kesana, daripada penumpang harus menunggu sampai keesokan harinya. Namun, kalau begini, kenapa gak nunggu dini hari di Changi saja?

Selain Slot masih ada Flight Approval

Membatalkan penerbangan, lalu mau menerbangkan rescue flight, membutuhkan flight approval baru untuk penerbangan diluar/non jadwal. Ini mungkin yang mengakibatkan rescue flight tidak bisa langsung diluncurkan. Alangkah konyolnya jika rescue flight mendapatkan ijin berdasarkan slot keberangkatan di Jakarta, namun tidak dapat slot di Changi, atau pejabat yang berwenang di Kemenhub berpikir demikian sehingga enggan menyetujui flight approvalnya. Ya kita tidak akan pernah tahu, dan mudah-mudahan tidak seperti itu. Namun ada 1 hal yang pasti, Johor Bahru, slotnya jauh lebih longgar dibanding Changi.

Inti pesan dari artikel ini ada 2:

  1. JANGAN TELAT BOARDING! Ini tidak ada toleransi karena sekali slot hangus, nunggu slot berikutnya bisa berjam-jam! Jaman sekarang masih banyak yang mengaku sembarang ditinggal terbang oleh maskapai dengan alasan “berada di gate sebelum jam berangkat”, namun tidak mau mengatakan bahwa jam boarding sudah lewat.AirportEarlyIngat video yang kemarin (30MAR) tersebar di media sosial mengenai banyak penumpang ditinggal oleh LionAir? Coba pesawat dijadwalkan jam berapa, pesawat boarding jam berapa, dan mereka tiba di gate jam berapa?

    Bagi yang belum mengerti beda jam keberangkatan dan jam boarding, mungkin ada baiknya membaca artikel saya mengenai “Apa arti dari jam keberangkatan.”

  2. Menyampaikan aduan/keluhan seperti yang disampaikan di artikel Detik.com tersebut, janganlah dengan ditambah-tambah bumbu. Jaman sekarang banyak sekali cara mencari informasi secara independen, mungkin tidak secara lengkap, tetapi cukup untuk menilai butir-butir mana dalam aduan yang berupa fakta dan mana yang bukan.

Saya berharap, mediasi yang dilakukan berjalan berdasarkan fakta dan bukti, agar maskapai dan penumpang yang terlibat mendapatkan yang terbaik bagi masing-masing berdasarkan kebenaran.

Leave a Reply