Pesawat A321 ber-registrasi B22610 yang dioperasiklan V Air dengan 161 penumpang serta awak pesawat dengan nomor penerbangan ZV252 dari Bandara Taipei Taoyuan menuju bandara Tokyo Haneda harus kembali ke Taipei dikarenakan sebuah powerbank milik penumpang yang diletakkan dalam bagasi kabin, terbakar. Pesawat dengan nomor penerbangan ZV252 lepas landas dari Taoyuan pada Jumat 6 Mei pukul 22:26 waktu setempat. Setelah terdeteksi bahwa ada kebakaran dalam kabin sekitar 30 emnit setelah lepas landas dan sumbernya ditemukan, api berhasil dipadamkan dengan cepat dan powerbank tersebut ditempatkan di ember air untuk menurunkan suhunya agar kebakaran tidak lagi terulang. Pesawat mendarat kembali pada pukul 23:21 tanpa ada penumpang dan awak yang cedera, pesawatpun tidak mengalami kerusakan apapun. Namun karena bau bekas kebakaran tersebut masih cukup kuat, pihak maskapai memutuskan untuk memindahkan seluruh penumpang ke pesawat lain untuk diberangkatkan pada 00:30 waktu setempat.

ZV252
Playback penerbangan ZV252 yang kembali karena kebakaran, oleh FlightRadar24

Setelah pesawat diperiksa kembali oleh pihak maskapai dan Taiwan Aviation Safety Council, pesawat tersebut kembali beroperasi pada hari esoknya. Seluruh awak pesawat akan menjalani proses investigasi oleh Taiwan ASC guna membelajari lebih lanjut kejadian tersebut. Meskipun sudah tercatat ada setidaknya 170 insiden melibatkan baterai lithium meledak atau terbakar dalam pesawat di seluruh dunia sejak 1991 hingga 2016, kejadian ini merupakan pertama kalinya untuk Taiwan. Powerbank yang terbakar merupakan baterai merek Cina berisikan baterai lithium ion, dan tidak jelas apakah powerbank tersebut sedang digunakan untuk mengisi baterai alat elektronik lainnya atau tidak pada saat kejadian.

Peraturan

ICAO sudah mengeluarkan panduan peraturan yang melarang pengangkutan baterai² lithium (baik lithium-ion maupun lithium polymer) sebagai cargo dalam pesawat penumpang. Untuk pengangkutan baterai² lithium yang tidak terpasang pada alat (baterai cadangan) dalam bagasi tidak diperbolehkan. Namun pengangkutan baterai² lithium terpasang maupun cadangan dalam kabin pesawat diperbolehkan dengan batasan² sesuai kebijakan maskapai dan negara maskapai. Alasan mengapa diperbolehkan di kabin pesawat adalah supaya kalau terbakar bisa ditangani langsung dan diamankan, seperti kasus kejadian V Air FV252 ini.

Diluar peraturan ICAO, masing² maskapai dan negara boleh mengeluarkan peraturan yang lebih ketat. Contoh yang universal adalah pelarangan pengangkutan baterai lithium polymer dengan kekuatan diatas 100 atau 160 watt hours, misal untuk hoverboard, e-bycycle, dan hal² serupa, yang banyak diterapkan oleh maskapai² di dunia.

Penanganan

Penanganan kebakaran baterai lithium berbeda dengan kebakaran biasanya dan banyak airline yang memberikan pelatihan dalam menangani resiko ini. Untuk kebakaran biasa, metode yang biasa digunakan adalah menghentikan sementara aliran oksigen ke api baik dengan menggunakan fire extinguisher berisi air, CO₂, maupun Halon. Namun baterai lithium yang terbakar sangatlah panas sehingga walaupun api padam ketika tidak ada suplai oksigen, api akan langsung menyala lagi ketika ada suplai oksigen pulih, sehingga penggunaan fire extinguisher biasa tidak akan ampuh. Inilah kenapa baterai lithium tidak boleh dibawa sebagai cargo dalam pesawat penumpang. Hal yang paling utama dalam penanganan kebakaran baterai lithium adalah penurunan suhu baterai. Inilah kenapa pada kejadian FV252 baterai dicelupkan ke ember air untuk menghentikan suplai oksigen sekaligus mendinginkan baterai. Penggunakan fire extinguisher biasa hanyalah untuk mematikan api yang membakar barang² sekitar baterai tersebut.

Leave a Reply