Ketika Komite Nasional Keselamatan penerbangan memberikan keterangan 18 butir mereka serta keterangan² mereka di sesi-tanya jawab mengenai kejadian QZ8501 pada tanggal 29 Januari 2015, banyak sekali informasi yang terungkap. Namun tidak lama kemudian, Bloomberg lalu Reuters memuat berita bahwa kapten pesawat tersebut sempat tidak berada di kursinya pada saat kejadian.

Dari ombak kecil…

320-FBW-3

Flight Augmentation Computer mengendalikan rudder A320 secara eletronik. (sumber: Airbus)

Kabar tersebut menyebutkan sumber² yang tidak bisa disebut namanya tetapi “dekat dengan investigasi,” menyatakan bahwa awak pesawat sempat mematikan Flight Augmentation Computer (FAC) pesawat. Di awalnya media menulis “awak pesawat mematikan sistim komputer yang penting sebelum jatuh.” Ya, memang FAC itu cukup penting, tetapi mematikannya tidak akan menjatuhkan pesawat. Beberapa media juga sempat mencoba menjelaskan bahwa dengan matinya FAC dan pesawat keluar dari Normal Law dan terbang menggunakan Alternate Law mengakibatkan pesawatnya susah dikendalikan sehingga pesawat jatuh. Faktanya, terbang menggunakan Alternate Law itu tidaklah jauh lebih sulit dibandingkan Normal Law, bedanya penerbang haruslah lebih hati² karena perlindungan flight envelope yang mencegah anda dari stall, overspeed, atau jungkir balik, sudah tidak berfungsi lagi.

… Menjadi Tsunami

Pada hari Jumat, Bloomberg melaporkan “seseorang yang tidak asing dengan investigasi” mengatakan bahwa setelah mencoba me-reset kedua FAC, kapten pesawat mencabut sekring/pemutus sikuit untuk  sistim FAC. Reuters sepertinya yang melanjutkan kisah ini dari “mematikan FAC” menjadi “mencabut sekring/pemutus sirkuit.” Berita yang sebelumnya hanyalah ombak kecil, telah menjadi tsunami.

  • Sekring/pemutus sirkuit FAC tidak gampang dicapai dari kursi pilot atau membutuhkan salah satu pilot untuk keluar dari kursi.
  • Tidak ada prosedur Airbus yang meminta awak pesawat untuk mencabut sekring/pemutus sirkuit untuk mematikan atau me-reset sistim Flight Augmentation Computer di pesawat A320.

Bagi yang tidak mengerti, tentu adanya 2 media global bereputasi tinggi ini memuat berita “kapten keluar dari kursinya” mengakibatkan media² berita lainnya membawa kabar ini ke semua penjuru dunia. Tsunaminya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Sedikit penelusuran yang saya lakukan

Sisi jiwa skeptis saya berfikir bahwa ada sesuatu yang ganjil dari berita² ini. Pilot tidak akan sembarangan mengarang prosedur baru dalam menangani masalah sistim pesawat. Jika kedua media global tersebut bisa menggunakan ‘sumber yang tidak bisa dinamakan’, lalu kenapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama? Toh, sumber mereka kan adalah ‘orang yang dekat’ dengan investigasi, sedangkan sumber saya memang orang yang melakukan investigasi. Akhirnya saya tanya langsung.

Jawaban yang diberikan oleh sumber saya adalah kemungkinan bahwa Bloomberg dan Reuters disesatkan baik secara sengaja atau tidak, atau terjebak dalam masalah penerjemahan bahasa. Tim investigasi sama sekali belum menyimpulkan atau menemukan bukti bahwa kapten sempat meninggalkan kursinya pada saat kejadian. Hal ini saya asumsi berdasarkan apa yang mereka dengan dari pembicaraan yang terekam di Cockpit Voice Recorder (CVR). Sumber saya juga menegaskan bahwa kedua awak berkoordinasi siapa yang menerbangkan pesawat dan siapa yang melakukan penelusuran masalah dimana FAC memang disebut (namun apakah hanya 1 atau kedua FAC yang bermasalah, tidak disebut). Beliau juga menegaskan bahwa awak pesawat tidak mengarang prosedur seenaknya selama kecelakaan.

Sebelumnya, KNKT sempat mengatakan bahwa stall warning pesawat sempat berbunyi, yang mengartikan bahwa pesawat sudah tidak terbang dalam Normal Law (dimana pesawat dilindungi dari stall, overspeeding, atau jungkir balik) tetapi di Alternate Law. Gabungan dari ini dan berita sebelumnya mengenai kedua FAC sempat dimatikan, membawa saya untuk melihat lagi prosedur penanganan kerusakan pada kedua FAC pesawat:

AUTO_FLT_FAC_BOTH

Sudah jelas bahwa sekring/pemutus sirkuit tidak terlibat, dan saya rasa sudah cukup pembahasan mengenainya. Lalu untuk mematikan FAC menggunakan tombol yang mana? Apakah pilot harus keluar dari kursinya? Mari kita lihat posisi kedua tombol tekan / sakelar FAC di panel atas kokpit A320:

320-Overhead-With-Crew-A

Saya rasa cukup jelas bahwa tombol tekan FAC yang berada diatas masing² pilot gampang sekali dicapai, dan untuk kapten bisa mencapai tombol tekan FAC2 atau ko-pilot bisa mencapai tombol tekan FAC1, masing² tidak butuh keluar dari kursi cukup dengan sedikit menggapai dari kursi. Jelas hal ini sangat berbeda dengan harus “keluar dari kursinya.”

Kesimpulan mengenai tsunami kabar ini 

Bagaimana berita ini bisa cepat berubah dari mematikan FAC menjadi menarik/mencabut sekring/pemutus sirkuit, dan dari menggapai menjadi keluar dari kursi?

Jawaban singkat saya: kabar ini terjebak dalam penerjemahan bahasa!

Kebingungan sederhana yang dialami seorang penulis yang tidak mengerti/sadar bahwa me-reset FAC dan mematikan FAC menggunakan tombol-tekan yang sama, dapat menyebabkan keyakinan bahwa mematikan FAC artinya menarik sekring/pemutus sirkuit FAC.

Butuhnya bersandar keluar untuk menggapai tombol tekan, mengingat adanya hambatan penggunaan bahasa yang berbeda (bahasa awam vs bahasa teknis, dan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia atau lainnya) dapat mengakibatkan kesulitan pengartian pergerakan atau aktivitas kapten di/dari kursinya. Kalau kita gabungkan kedua hal tersebut, maka gampang sekali penulis bisa menyalah artikan “berarti dia pasti meninggalkan kursinya untuk menggapai sekring/pemutus sirkuit.”

Kebanyakan jurnalis mainstream bukanlah jurnalis penerbangan, dan sering kali kantor berita mereka mengandalkan pakar penerbangan mereka untuk mengubah bahasa teknis ke bahasa awam. Ini tentunya menambah tantangan penerjemahan dalam upaya menyampaikan konteks yang tepat.

Di hari minggu pagi, Tempo, memuat berita bahwa KNKT membantah kapten keluar dari kursi. Ketua tim investigasi menyatakan, “ngarang! nggak ada itu,” mengenai dugaan/tuduhan bahwa pilot sempat keluar dari kursi. Sayangnya judul beritanya adalah KNKT membantah kapten sempat keluar dari kokpit. Untungnya, saya kenal penulis berita tersebut dan menanyakan, apakah yang dibantah itu “keluar dari kursi” atau “keluar dari kokpit.” Jawabannya: DUA-DUANYA!

Sekarang, mari kita tunggu apakah Bloomberg dan/atau Reuters akan memuat berita baru mengenai KNKT membantah kapten sempat meninggalkan kursinya.

UPDATE:

Menjelang akhir hari senin 2 Februari, Reuters memuat berita bahwa tim Investigasi tidak menemukan bukti bahwa captain keluar dari kursi saat kejadian.