Tag Archives: AirbusID16

QuizWinnersAnnouncements

Pengumuman Pemenang Quiz “Bagi² Rejeki Bersama Airbus dan GerryAirways”

Pertama saya mohon ma’af karena pengumuman ini seharusnya sudah dibuat pada 16/17 Agustus 2016, namun karena jadwal yang tidak memungkinan, HP rusak, sakit, dan lain² maka pengumuman ini tertunda hingga hari ini.

OK, mari kita langsung saja, pengumumannya saya lakukan di video berikut yang diambil 15 Agustus 2016:

Rangkuman dari pengumuman di video tersebut:

  • PERTANYAAN 1:
    • Jawaban: Frontier Airlines
    • Pemenang: Felix Sunjaya Purnomo
    • Pemenang diundi dari semua jawaban yang benar.
    • Hadiahnya adalah 1 Airbus Goodie Bag plus 1 3D-print Airbus Concept Aircraft.
  • PERTANYAAN 2:
    • Jawaban: Right Wing Upper Panel A350
    • Pemenang: Agus Rotua
    • Pemenang adalah yang pertama yang memberikan jawaban yang benar.
    • Hadiahnya adalah 1 Airbus Goodie Bag
  • PERTANYAAN 3:
    • Jawaban: TAP Portugal (Transportes Aéreo Portugueses)
    • Pemenang: Sugiarto Tjahjono
    • Tadinya pemenang diundi dari semua jawaban yang benar, namun karena kesalahan data input, pemenang yang terpilih ternyata jawabannya salah. Pada tanggal 1 September pemenang baru untuk pertanyaan ketiga (nama tercantum diatas) telah dipilih berdasarkan undian dari semua jawaban yang benar (namun pemilihan ini dilakukan tanpa rekaman video).
    • Hadiahnya adalah 1 die-cast model 1:400 A330neo.

Selamat bagi para pemenang dan juga bagi semua peserta yang lain. Semoga quiz² lain bisa diadakan lagi dalam waktu dekat.

Bagi para pemenang, dimohon untuk menghubungi pihak GerryAirways melalui komentari di posting Facebook GerryAirways atau FB Messaging, atau email ke: gerrys [at] uxmilk [dot] com untuk contact details agar bisa dikirim hadiahnya.

Pemilihan pemenang dilakukan pada 15 Agustus 2016 di kantor Maverick Indonesia di Jakarta oleh GerryAirways sebagai penyelenggara dan Maverick Indonesia sebagai penyelenggara pendukung. Keputusan pemilihan pemenang oleh para penyelenggara tidak dapat diganggu gugat. Bilamana pemenang tidak dapat dihubungi atau tidak menghubungi pihak GerryAirways atau Maverick Indonesia hingga 16 September 2016 maka hadiah akan dialihkan ke pemenang berikut/lainnya sesuai keputusan bersama para penyelenggara.

A330NEO-Feat

Obsesi NEO Airbus dan A330

Riwayat Airbus dimulai di pesawat kelas widebody-twin di 1972 dengan A300. Inovasi memenuhi kebutuhan industri penerbangan terus dilakukan, dengan A310, lalu A330, dan sekarang A350. Namun tentu pemain lama, Boeing, juga tidak tinggal diam di pertarungan widebody-twin yang dimulai dengan 767, lalu 777, dan sekarang 787. Pengembangan tipe² pesawat selain A300 dan 767 menggambarkan segmentasi kemampuan pesawat yang diminati oleh pasar.

Perkembangan Segmentasi Widebody Twin

Untuk Widebody Twin yang besar, pertarungan dimulai di tahun 90-an dengan pertarungan antara 777-200 dan A330-300. Lalu untuk berkompetisi dengan 767-300 serta menggantikan A300, Airbus mengeluarkan A330-200, dimana akhirnya Boeing harus bereaksi dengan mengeluarkan 787-8, yang diikuti dengan 787-9 untuk menggantikan 777-200 yang melawan A330-300. Di ukuran yang lebih besar, Boeing mengeluarkan 777-300, dimana Airbus mencoba melawannya dengan A340-600 dan kalah, dan akhirnya membuat A350-800 untuk melawan 777-200ER/LR, A350-900 untuk melawan 777-300/300ER, dan A350-1000 untuk melawan 777-X.

AirbusvsBoeing

Adu canggih narrowbody Airbus dan Boeing.
NG vs NEO

Pertarungan sengit antara Airbus dan Boeing juga berlangsung di kelas narrowbody, dimana pasar di dominasi oleh 737 family dan A320 family. Ketika Boeing mengeluarkan 737-300, Airbus mengeluarkan A320 yang lebih besar, Boeing lalu mengeluarkan 737-400 yang sedikit lebih kecil dari A320. Airbus lalu mengeluarkan A321 untuk melawan 757 yang akhirnya tutup produksi, namun untuk mencegah kekalahan di pasar, Boeing mengeluarkan 737NG family, dengan 737-700, 737-800, dan 737-900 (dan kemudian -900ER) untuk melawan A319, A320, dan A321. Begitu Airbus menggunakan mesin baru (dari CFM56-5A series ke -5B series, dan IAE V2500-A1 series ke -A5 series), Boeing memasang Winglets di 737NG mereka. Airbus akhirnya memutuskan untuk tidak hanya sekedar meng-upgrade mesin lagi atau hanya memasang winglet di A320 family tetapi sekalian ganti generasi mesin, dengan apa yang dinamakan New Engine Option, atau NEO.

NEO vs Max, the upcoming battle

MaxVsNeoTentu dengan adanya A320NEO dan banyaknya pemesanan untuk A320NEO menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan bahan bakar sangat dihargai oleh maskapai. Harga avtur boleh murah sekarang, tetapi di Uni Eropa, CO₂ emissions menjadi beban biaya yang cukup berarti. Makin irit fuel = makin sedikit CO₂ emissions-nya. Boeing juga tidak mau diam ditempat, dan mengeluarkan 737MAX, dan hasilnya, NEO dan MAX mencetak ribuan pesanan dalam waktu singkat. Lebih dari 4600 NEO dipesan dalam waktu 7 tahun dan lebih dari 2800 MAX dipesan dalam waktu 5 tahun.

Selain ganti mesin ada apa lagi?

NEO merupakan “minimum change” derivative dimana fitur² seperti sharklet/winglet dan spaceflex galley dan WC belakang juga ditawarkan untuk A320CEO (current engine option) family, dan tidak ada perubahan di kokpit pesawat karena fitur² baru di avionics dan flight control system NEO juga ditawarkan di CEO. Yang baru hanyalah mesinnya.

A320-Improvements
Fitur-fitur baru kabin A320 family tidak hanya untuk A320neo famiy.

Berbeda dengan NEO, selain mesin yang baru, MAX juga menawarkan ekor yang baru, dan cockpit layout yang baru. Fitur² seperti Scimitar Winglet atau Blade-Fillet winglet, juga sudah ditawarkan di NG.

Namun yang pasti dari kedua pesawat generasi baru ini adalah, tingkat kebisingan yang jauh lebih rendah.

OK, terus apa hubungannya dengan A330neo dan A350?

Pertarungan NEO vs MAX ini sebenarnya menjelaskan bahwa dalam meningkatkan efisiensi pesawat dan berupaya memenuhi segmentasi pesawat dalam aspek kapasitas dan jarak jelajah, metode yang bisa ditempuh oleh pabrik tidak hanya menggunakan design baru (seperti 787 dan A350), atau meng-upgrade design yang ada (A320NEO) dengan mesin yang baru, atau memodifikasi design yang ada (737MAX).

Antara Design Baru, nge-Max, dan nge-NEO di dunia widebody, lahirlah A330NEO

Untuk segmen pasar widebody dengan kapasitas rendah, pesawat Boeing 767 dan A310 yang merupakan generasi awal widebody twin sudah tidak lagi kompetitif. Maskapai² yang dulu membuka rute jauh yang baru dengan menggunakan A310 dan 767 untuk meminimalisir resiko, sekarang bisa menggunakan A330-200. Dengan dihentikannya produksi A310, Boeing mengambil kesempatan dengan membuat 787, untuk mengambil pasar 767, A300 dan A310, karena A330-200 dianggap terlalu besar meskipun sangat efisien. Belajar dari perang 737 vs A320, Boeing merasa bahwa hanya memperbarui 767 bukanlah opsi yang bisa digunakan untuk jangka panjang karena selama masa produksi 30 tahun 767, pesawat tersebut terus diupgrade; dan A330-200 merupakan pesawat yang sangat susah dikalahkan dengan design yang “konvensional,” maka Boeing mendesain 787 dengan banyak sekali perubahan dari pesawat² sebelumnya, guna memberi sebuah quantum leap pada produk barunya ini.

330NEOvs787Fitur² barunya merupakan menggunaan Carbon Fibre Reinforced Polymer (CFRP) guna meringankan pesawat dan membuatnya lebih irit. Penggunaan CFRP di 787 secara extensive hingga menggantikan struktur kerangka konvensional dianggap riskan namun Boeing bersikeras menghasilkan sebuah pesawat yang benar² super-efisien. Pengendalian tekanan udara kabin pun tidak menggunakan bleed-air dari mesin pesawat tetapi menggunakan compressor elektrik, hal ini dilakukan agar tenaga yang dihasilkan dari mesin pesawat benar² tidak dibebankan untuk hal² lain, kecuali untuk menghasilkan tenaga listrik pesawat. Alhasil, 787 merupakan sebuah pesawat yang sangat radikal, tanpa menggunakan bleed-air, dan merupakan pesawat dengan penggunaan tenaga listrik terbanyak untuk sebuah pesawat, yang juga memerlukan baterai aki dari lithium ion… dan lithium ion merupakan “dangerous goods”

787 merupakan pesawat yang menggunakan teknologi baru yang sangat banyak (seperti A320 di tahun 80-an), dan akibatnya, proses produksi mengalami banyak masalah dan penundaan. Ironisnya, penundaan 787 ini malah membuat A330-200 laku keras, sampai ada guyonan di industry dirgantara, “the best A330 salesman is the 787!” Meskipun Airbus merasa yakin bahwa A330 masih bisa unggul melawan 787 di penerbangan hingga jarak 7400 kilometer, airline² mulai menekan Airbus untuk menawarkan opsi mesin baru (NEO) untuk A330 agar tetap bisa lebih kompetitif disbanding 787.

A330NEO vs A350

Bagi Airbus, A330NEO berpotensi untuk mengkanibalisasi pasar A350, khususnya versinya yang paling kecil, A350-800, dimana A350 dikembangkan untuk mengalahkan 777 dan program 777-X. Jika A330NEO juga hanya menggantikan mesin A330 yang ada, Airbus juga tidak yakin apakah airline² mau mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli A330NEO dibanding A330 yang sudah ada.

350Vs779and7810Setelah beberapa airline yang memesan A350-800 mengubah pesanan mereka ke A350-900, akhirnya Airbus memutuskan untuk membuat A330NEO, karena mereka akhirnya sadar bahwa A350-800 tidak akan menjadi variant yang popular dari A350 family. Namun bagaimana agar pemesan A350-800 tidak pindah ke 787 setelah Airbus membatalkan produksi A350-800? Jawabannya adalah, A330NEO harus lebih dari sekedar A330 dipasang mesin baru.

A330-basic

Inovasi² kabin A350 dibawah ke A330Neo untuk bisa menambah kapasitas kursi tanpa menambah panjang pesawat, guna menurunkan biaya operasi per kursi. Selain itu, peningkatan aerodinamika pesawat juga dilakukan:

A330NEO-improvements

Berhasilkah A330NEO?

Saya tidak mau menggunakan angka² performance pesawat yang dikeluarkan oleh marketing Airbus, karena saya tidak pernah percaya akan angka² itu (ini berdasarkan pengalaman saya membandingkan 737NG dengan A320 family baik dengan angka marketing maupun angka operasional maskapai² yang digunakan untuk pengoperasian pesawat, dimana angka marketing baik Boeing atau Airbus itu hanyalah “marketing belaka”). Namun karena pesawat ini belum ada angka yang telah disertifikasi untuk penggunaan operasional, mari kita gunakan logika² politik perdagangan pesawat saja.

Pada bulan Maret 2016, Boeing mengatakan bahwa A330NEO akan gagal karena ketika pesawat tersebut mulai digunakan oleh maskapai (2019), industri penerbangan sudah akan dibanjiri oleh 787 dan A350. Namun Jeff Knittel, kepala CIT Transportation and International Finance, holding company dari leasing company A330 terbesar, CIT leasing, mengatakan bahwa asumsi Boeing tersebut salah. Dengan lebih dari 100 airline menggunakan A330, apakah ada yang pindah ke A350, tentu saja; apakah ada yang pindah ke 787, tentu saja; namun Knittel juga mengatakan bahwa banyak operator yang tidak membutuhkan jarak jelajah 787 atau A350, namun tetap ingin pesawat yang lebih efisien.

A359ULR-SQ
Kalau butuh jarak jelajah yang jauh, A350-900 dan A350-900ULR tentu menjadi pilihan yang sangat baik, namun kalau tidak butuh terbang jauh apakah efektif menggunakan A350-900?

Menurut Knittel, panjang rute pesawat A330 rata² hanya 3000 kilometer. “Apakah wajar berinvestasi struktur badan pesawat yang baru, sayap yang baru, dan lain², hanya untuk penerbangan 3000 kilometer? Tidak!” Kelebihan A330NEO adalah penghematan bahan bakar sekitar 14% per kursi dan ini dimungkinkan oleh sayapnya yang baru. “Menurut saya banyak yang lupa bahwa (A330NEO) sayapnya baru.”

A330NEO-Orders

Sejak diluncurkan di akhir 2014, hingga saat ini A330NEO baru mengantongi 186 pesanan, dan ini jauh berbeda dengan A350 yang telah mengantongi lebih dari 800 pesanan dalam 10 tahun terakhir dan 787 dengan lebih dari 1100 pesanan dalam 12 tahun. Namun kalau kita lihat dalam 1.5 tahun A330NEO mendapat pesanan 186 pesawat, jika kita ekstrapolasi periode tersebut menjadi 9 tahun, 184 pesanan dalam 1.5 tahun sama dengan 1100 pesanan dalam 9 tahun. Namun apakah 1100 pesanan dalam 9 tahun itu realistis? Ya, untuk sementara itu hanyalah mimpi.

Dan sekarang waktunya untuk…

QUIZ BERHADIAH!

Pertanyaan: Siapakah airline yang akan menjadi operator pertama A330neo?

Silahkan kirim jawabannya berupa nama airline/maskapai tersebut, sebagai komentar di artikel ini atau di posting topik ini di Facebook Page GerryAirways. Kuis ini akan ditutup pada akhir tanggal 12 Agustus 2016. Pemenang akan dipilih Maverick Indonesia dari semua entry jawaban yang benar. Oh ya, hadiahnya?

A330neoprize
1 model A330neo 1:400 edisi khusus Airbus!
Peraturan Quiz:
  1. Jawaban dikirim ke komentar topik ini atau posting terkait topik ini di halaman GerryAirways di Facebook.
  2. Hanya 1 entry per orang. Jika ada lebih dari 1 entry per orang maka jawaban pertamanya yang akan diterima.
  3. Kuis ditutup pada 12 Agustus 2016 pukul 23:59WIB.
  4. Pemenang akan dipilih oleh mitra Airbus untuk kuis ini, Maverick Indonesia.
  5. Hadiah akan dikirim oleh Maverick Indonesia ke alamat pemenang di Indonesia.
Stade_Cover

Pabrik Airbus di Stade – Pusat Produksi Ekor Pesawat

Fasilitas Airbus di Hamburg yang kurang dikenal

Kalau kita tanya kepada orang “ada fasilitas Airbus apa di daerah Hamburg,” kemungkinan besar mereka akan menjawab “assembly line kedua A320 family.” Saya pun pada awalnya seperti itu. Saya tahu bahwa fasilitas Airbus di bandara khusus Hamburg Finkenwerder (XFW/EDHI) merupakan fasilitas assembly line kedua untuk pesawat komersil Airbus, dimana mayoritas A319 dan A321 dirakit, serta dimana proses interior fitting dan pengecetan A380 dilakukan. Ketika saya diundang oleh Airbus untuk menghadiri Airbus Innovation Days di akhir Mei 2016, saya diberi tahu tentang fasilitas Airbus di Stade.

Kalau dari Hamburg, Finkenweder tepi selatan sungai Elbe dan berada di ujung barat kota. Stade berada sekitar 30-40 menit lagi dari Finkenwerder dengan mobil/bis.

StadePreso4

Kompleks Airbus disini beroperasi sejak 1983 dan khusus memproduksi bagian² composite untuk pesawat² Airbus. Area ini menjadi eco-system pengembangan composite untuk beraneka ragam industry sehingga inovasi2 terkini mengenai teknologi maupun metode produksi struktur komposit bisa dengan cepat diterapkan di Airbus Stade. Selain itu, keberadaan eco-system ini juga berarti adanya ketersediaan sumber daya manusia yang terlatih dalam dunia composites disana.

StadeLayout

1800 karyawan yang bekerja disini membuat komponen badan untuk A350 serta panel atas sayap A350 dan A400M. Semua vertical tailplane atau sirip ekor untuk pesawat Airbus dibuat disini, dari A320 family, A330/340 families, A380 dan A400M.

Tur A350 upper wing panel facility
20160530_142345
Spanduk raksasa di A350 Wing Upper Panel Production Facility di Airbus Stade.

Bangunan ini merupakan bangunan terbesar di Airbus Stade, ketika masuk kesini kita langsung disuruh pakai helm yang cukup unik, selain untuk melindungi kepala tetapi juga untuk mencegah rambut rontok mengkontaminasi wing panel yang sedang dibuat.

Stade_Helm
Helmnya keliatan agak konyol sih…
A350WUP-1
Wing Upper Panel untuk sayap kanan sedang dibuat dengan menaruh serat karbon lapis demi lapis.

Di mesin ini, panel sayap dibangun dengan meletakkan serat karbon lapis demi lapis hingga mencapai ketebalan sekitar 2.7 sentimeter. Precision automation menggunakan robot ini memungkinkan panel sayap dengan ketebalan tersebut. Dengan metode sebelumya, Airbus harus menggunakan ketebalan serat karbon sekitar 3cm yang tentunya menambah berat pesawat yang cukup banyak.

A350WUP-2
Kepala mesin peletak carbon-fiber

A350WUP-3

Setelah itu panel yang masih mentah tersebut dibawa melalui pintu ini ke Autoclave, atau “tempat masak” dimana panel yang mentah tadi di vacuum wrap, dimasukkan kedalam pemanggang, dan dimasak. Autoclave ini merupakan salah satu autoclave terbesar di dunia.

A350Autoclave
Autoclave untuk Wing Upper Panel A350.

Setelah dimasak, strukturnya sudah kuat dan diperkuat lagi dengan memasang stringers atau tulang² lalu di tes dan inspeksi, sebelum dikirim ke Inggris untuk perakitan sayap dengan komponen² lain, yang kemudian dikirim lagi ke Toulouse untuk final assembly pesawat.

Metode yang mirip digunakan untuk pembuatan panel fuselage untuk A350 namun menggunakan skala yang lebih kecil. Bedanya disini skin panelnya tidak dimasak sebelum pemasangan stringer, tetapi stringer mentah pun diletakkan di skin panel menggunakan template yang dipancarkan menggunakan lampu laser, baru setelah itu disiapkan untuk masuk ke autoclave.

Video Pendek: Proses pembuatan Wing Upper Panel dan Fuselage Panel A350 di Airbus Stade

Tur Vertical Tail Plane Assembly facility
Tails1-100
Berpose didepan gambar 1:10 pesawat² sipil Airbus yang sirip ekornya diproduksi di Stade

Setelah dari fasilitas A350 wing panel facility, kita mengunjungi fasilitas vertical tailplane assembly, khususnya untuk A320, A330, dan A380. Kami tidak mengunjungi yang untuk A400 dan A350 karena berada di bangunan yang terpisah.

Disini ekor pesawat dibangun dari nol. Berawal dari konstruksi main skin panel dengan stringernya, yang kemudian dijadian main tail structure, yang kemudian siap untuk ditambahkan bagian² lainnya seperti rudder mounting frame.

Awal dari riwayat sebuah ekor pesawat adalah seperti ini, sebelum diberi stringer/tulang dan proses perakitan awal.
Awal dari riwayat sebuah ekor pesawat adalah seperti ini, sebelum diberi stringer/tulang dan proses perakitan awal.
Ekor yang sudah hampir selesai proses perakitan awal, sudah terdiri dari sisi kiri dan kanan yang telah digabung.
Ekor yang sudah hampir selesai proses perakitan awal, sudah terdiri dari sisi kiri dan kanan yang telah digabung.
VTP7255
Ekor untuk A320 family yang ke 7255 yang akan digunakan Lufthansa yang sudah selesai proses awal perakitan, dengan rudder mounting frame yang dibungkus.
VTP7295
Ekor A320 family yang ke 7295 yang akan digunakan oleh Air Asia juga sudah selesai tahap perakitan awal, disini terlihat rudder mounting frame-nya.

Berikutnya, ekor² tersebut akan dipasang perlengkapan2 seperti hydraulic actuators, electrical dan data cables, dan komputer² sensor.

VTP-PCU
Rudder Power Control Unit telah dipasang dan rudder actuating rods sedang dipasang.
VTP330-1
Tailplane Leading Edge untuk A330
VTP330-1750TK
Ekor A330 ke-1750 yang akan digunakan Turkish Airlines sedang menjalani tahap inspeksi

Setelah semua terpasang, maka ekor akan masuk ke pemeriksaan dan inspeksi, ini ekor A330 nomor seri 1750 yang akan menuju Turkish Airlines, sedang berada di inspection rig.

Bagi maskapai² yang ingin menginspeksi konstruksi pesawat di setiap tahap dan bagiannya, Airbus juga menyediakan Customer Visit Rigs, seperti ini dimana pihak maskapai boleh memeriksa komponen tersebut sebelum dikirim ke tahap produksi berikutnya.

VTPinspectionRigs
VTP Inspection rig untuk A320 (kiri) dengan tinggi 4 lantai, dan untuk A380 (kanan) dengan tinggi 6 lantai.

Disini banyak ekor² pesawat yang sedang menunggu tahap berikutnya:

VTPsReady
Siap dikirim ke Final Assembly Line, Ekor A330 nomor seri 1749 (Kiri), A320 family nomor seri 7267 (tengah), dan 2 Vertical Tail Plane A380 (kanan).

 

VTPA330
A330 VTP Assembly Line

Dibelakang ini adalah assembly line vertical tailplane A330. Jadi 1 sisi digunakan untuk A320 bagian tengah untuk A330, dan sisi lainnya untuk A380 dan ini adalah assembly tailplane A380 dimana pemasangan rivets dan baut serta pemborannya menggunakan robot untuk mempercepat proses pembuatannya.

Video Pendek: Proses pembuatan sirip ekor A320 dan A380

Setelah dari VTP assembly facility, kita pun balik ke Finkenwerder untuk bagian berikutnya dari tur kita.

KontingenIndonesia
OK, kontingen Indonesia di #AID16 mejeng dulu…

Dan sekarang waktunya untuk…

QUIZ BERHADIAH!

Pertanyaan: Komponen apa dan komponen untuk pesawat apa yang sedang dibuat di foto ini?

Quiz2

Silahkan kirim jawabannya berupa nama komponen dan tipe pesawat, sebagai komentar di artikel ini atau di posting topik ini di Facebook Page GerryAirways. Kuis ini akan ditutup pada akhir tanggal 12 Agustus 2016. Pemenang akan dipilih Maverick Indonesia dari semua entry jawaban yang benar. Oh ya, hadiahnya?

AirbusGoodieBagPrize
1 Goodie Bag Airbus.
Peraturan Quiz:
  1. Jawaban dikirim ke komentar topik ini atau posting terkait topik ini di halaman GerryAirways di Facebook.
  2. Hanya 1 entry per orang. Jika ada lebih dari 1 entry per orang maka jawaban pertamanya yang akan diterima.
  3. Kuis ditutup pada 12 Agustus 2016 pukul 23:59WIB.
  4. Pemenang akan dipilih oleh mitra Airbus untuk kuis ini, Maverick Indonesia.
  5. Hadiah akan dikirim oleh Maverick Indonesia ke alamat pemenang di Indonesia.
Direct_printing_Feature

Direct-Printing Ekor Pesawat: Inovasi untuk desain warna ekor yang rumit

Artikel Video:

OK, saya harus jujur, akhir² ini saya mulai bosan bahkan muak dengan pesawat yang warnanya gitu² aja, dari yang badannya putih lah, sampai yang ekornya pun membosankan. Kenapa kok pesawat² sekarang makin banyak yang putih dan membosankan?

OY-A321
Logo dan livery Finnair yang bagus tetapi menjenuhkan. (Sumber: Alan Wilson/CC/FU)

Jawaban yang mudah sebenarnya hanyalah masalah uang dan waktu, dan juga dampak lingkungan hidup.

Ralph_Mauer
Head of A320 Paintshop – Airbus Hamburg, Ralph Mauer. (Sumber: Airbus)

Di akhir Mei 2016 pada acara Airbus Innovation Days di Hamburg Finkenwerder, Kepala Paintshop untuk Airbus A320 family di Hamburg, Raplh Mauer, membahas masalah2 dan dan solusi2 dalam pengecetan pesawat.

Tantangan bagi pengecetan desain kompleks di ekor pesawat
LAX_International_Line-up_2
Ekor pesawat sebagai identitas visual/pengenal (Sumber: Alan Wilson/CC/FU)

Mari kita bahas bagian pesawat yang digunakan untuk identitas visual oleh maskapai yaitu ekor. Untuk desain visual yang kompleks untuk ekor pesawat, ada 3 metode yang digunakan selama ini:

  1. Stiker (contoh: Frontier Airlines)
  2. Airbrush (contoh: TransAsia Airways)
  3. Stensil (contoh American Airlines)
1. Stiker
MSN_6793_Frontier_A320_Paint_VTP_28
Pemasangan Stiker untuk A320 Frontier Airlines. (Sumber: Airbus)

Mari kita mulai dengan stiker, atau Adhesive Film. Stiker² disiapkan dalam beberapa bagian lalu dipasang dan ditempel seperti puzzle lalu diberi lapisan pelindung diatasnya. Frontier Airlines adalah salah satu pengguna utama metode stiker dengan memasang foto² satwa liar di ekornya. Tema ini memang cocok sekali dengan lokasi hub Frontier Airlines di Denver yang berada di pegunungan Rocky yang identik dengan satwa liar, dan efek dari branding ini cukup jauh, kalau lagi musim libur keluarga anak2 di Amerika Serikat banyak yang bilang ke orang tuanya, “maunya naik pesawat burung hantu atau pesawat beruang!”

JA102A-Medium
Stiker berupa “Panoramic Film Japan” di A321 All Nippon Airlines (Sumber: Contri/CC/FU)

Selain di ekor, penggunaan stiker secara ekstensif juga bisa digunakan di badan pesawat seperti di A321 All Nippon Airlines (atas) dan Austrian Airlines (bawah).

AustrianA321
Stiker berupa foto anak-anak di A321 Austrian Airlines

Keunggulan dari penggunaan stiker adalah kebebasan dalam design dan penerapannya yang bisa diulang ulang, namun sisi jeleknya adalah mahalnya bahan stiker tersebut. Bahan stiker untuk 1 ekor A320 itu biayanya sama dengan harga 1 mobil yang sangat mahal. Selain itu daya tahan materinya pun juga cukup rendah, dan ini mengakibatkan banyak airline yang tidak suka atau berpengalaman buruk menggunakan stiker. Kalau sebagian stikernya terkelupas, bisa² anda harus ganti 1 panel stikernya.

2. Airbrush

Airbrush juga memungkinkan penerapan design yang sangat kompleks baik dengan blending maupun layering. Coba kita lihat ekor Airbus A321 milik Trans Asia Airways ini, dengan gradasi warna di naganya dan piringan emasnya.

A321-Transasia-Airways-in-FAL
Ekor A321 TransAsia Airways yang di cat menggukan airbush. (Sumber: Airbus)

Masalah dari menggunakan airbrush untuk desain yang kompleks adalah penggunaan layer yang banyak dan anda juga harus mengerjakannya dan menunggu cetnya kering untuk setiap layer. Artinya, proses ini memakan waktu yang cukup lama. Mengecet dua sisi ekor A320 untuk Trans Asia Airways saja memakan waktu 9 hari.

Kendala lain adalah masalah konsistensi hasilnya. Untuk bikin sisi kiri dan sisi kanannya sama aja udah susah, apalagi kalau harus mengulanginya lagi, dan lagi, dan lagi, untuk jumlah armada yang besar, sudah pasti akan ada variasinya.

MSN152-Air-Asiana-Paintshop
Mengecat semprot badan pesawat. (Sumber: Airbus)

Untuk mengecet design yang sederhana menggunakan spray paint saja anda membutuhkan pekerja cet yang ahli supaya lapisan cetnya bisa merata tetapi masih tipis biar tidak terlalu berat. Untuk design yang kompleks menggunakan airbrush, tentunya anda perlu pekerja cet yang terbaik di industry. Masalahnya, kalau ahli airbrush tersebut lagi mau liburan pas anda membutuhkan pengecetan, ya berantakan lah jadwal anda, lalu kalau dia sakit setelah dari liburan, ancur lagi deh jadwal anda.

3. Stensil

Jika anda membutuhkan gradasi warna yang bagus yang bisa diterapkan secara konsisten, tahan lama dan tidak tergantung jadwal libur si ahli airbrush, anda bisa gunakan metode stensil. Mari lihat gradasi warna di A321 American Airlines ini. Keren kan?

MSN-5678-American-Airlines-FF-Still_Large
(Sumber: Airbus)

Sekarang kalau kita zoom-in, keliatan kan caranya gimana, yaitu gradasi warnanya  adalah hasil dari kombinasi variasi ukuran titik2 dan warna. Cara ini bisa dilakukan oleh setiap pekerja cet pesawat anda tanpa perlununggu si spesialis airbrush untuk pulang dari liburnya dan konsistensinya antar pesawat terjamin!

MSN-5678-American-Airlines-FF-zoom
Detail dari stensil yang digunakan American Airlines. (Sumber: Airbus)

Terus masalahnya dimana? Ini…

Stencil
(Sumber: Airbus)

Walau stensilnya bisa dipersiapkan dengan cepat menggunakan computer, anda masih butuh orang untuk ngebolongin lobang stensilnya satu per satu untuk setiap layernya, dan 1 layer bisa ada ribuan lubang. Ini jelas akan memakan waktu dan waktu adalah uang, jadi metode stensil ini masih saja mahal dan membutuhkan waktu yang lama. Selain itu, karakteristik metode stensil ini mirip dengan printer dot matrix, yaitu kemampuannya terbatas dan kalau anda maksa untuk menggunakan metode ini untuk design yang kompleks, biayanya bisa² tidak masuk akal. Inilah kenapa American Airlines, hanya menggunakan gradasi warna di bagian biru di ekornya.

Batas Metode² Tradisional

Jadi disini kelihatan batas dari kompleksitas design yang bisa diterapkan di ekor pesawat menggunakan metode tradisional. Kombinasi antara ekspektasi airlines dalam hasil design logo complex dengan meningkatnya volume produksi pesawat, cepat atau lambat, metode pengecetan ekor pesawat yang ada akan menjadi bottleneck proses produksi. Airbus A320 family saja akan diproduksi 60 pesawat sebulannya, kalau 1 ekor memakan waktu 9 hari yah… silahkan hitung sendiri…

DotMatrix_Colour
Printer Dot-Matrix Berwarna (Sumber: Corvair/CC/FU)

Anda ingat printer dot-matrix yang dulu meraja lela akhirnya diganti dengan apa? Mereka diganti dengan printer inkjet, lalu kenapa kita tidak ulangi aja metode itu untuk ekor pesawat?

Eh bentar bentar… Ink Jet printer? Iya… ya kita gedein laaah!

DirectPrint_VTP_04_small
A320 Vertical Tail Plane Direct Printer (Sumber: Airbus)
Direct Printing dan Ink Jet Printer Raksasa
DirectPrint_VTP_20_Zoom
(Sumber: Airbus)

Lihat aja ini, printer head-nya aja sama dengan inkjet printer! Warna yang digunakan juga CMYK (cyan, magenta, yellow, key/black), plus ada nozzle untuk tinta dasar warna putih kalau akan mencetak diatas permukaan yang berwarna gelap, dan ini juga menggunakan tinta, bukan cet.

DirectPrint_VTP_26
(Sumber: Airbus)

Ini benar² printer yang besar. Ruang geraknya adalah 7 meter dikali 7 meter, dengan ruang gerak kedalaman hingga 450 milimeter untuk mengikuti kontur ekor pesawat. Cara kerjanya juga sama dengan inkjet biasa dimana printer headnya maju mundur dari baris ke baris. Cukup sederhana bukan?

Pengguna Pertama Direct Printing
TCook_HR_
Hasil Direct Printing ekor A321 Thomas Cook (Sumber: Airbus)

Di bulan Maret 2016, Thomas Cook Airlines menerima pesawat pertama mereka yang menggunakan metode direct printing ini. Direct printing digunakan di bagian kuning ekornya yang sebelumnya menggunakan stiker dan Thomas Cook dikabarkan cukup banyak mengeluh mengenai stikernya.

TCook_HR
(Sumber: Airbus)

Tinta yang digunakan untuk direct printing ini beratnya 3 kilogram lebih ringan dari stiker yang digunakan, dan hanya menggunakan ½ liter tinta. Untuk printing gambar sebesar 1 ekor A320, anda butuh sekitar 1.2 sampai 1.5 liter tinta, dan ini jauh lebih sedikit dibanding cet yang diperlukan dengan metode tradisional. Jelas, direct printing ini adalah inovasi baru yang ramah lingkungan dan memberikan banyak kebebasan dalam design yang bisa pasang di ekor pesawat.

Seharusnya Frontier Airlines sih cepat2 pindah dari stiker ke direct printing, namun pada Innovation Days tersebut, Ralph Mauer tidak mau berkomentar apakah Frontier atau TransAsia atau American Airlines akan pindah ke metode direct printing (atau mungkin waktu itu saya sedang tidak mendengarkan presentasi Ralph Mauer karena sudah tidak sabar menunggu makan siang!).

Masa Depan Direct Printing

Jika direct printing bisa digunakan tanpa batas oleh pabrik² pesawat, Special Liveries yang diadakan oleh maskapai dari waktu ke waktu bisa menjadi hal yang biasa kalaupabrik melakukan ini:

FuturePrint

Inilah visi masa depan Direct Printing yang dipikirkan Airbus dimana kulit pesawat langsung di print selagi proses di assembly line dengan Direct Printer yang bisa mengelilingi 1 badan pesawat. Namun itu masih jauh di masa depan, saya perkirakan kapasitas produksi Direct Printing ekor 320 akan ditingkatkan dalam waktu dekat lalu kemudian diterapkan di A330neo dan A350, setelah itu baru Airbus akan memikirkan penggunaan direct printing untuk badan pesawat.

Setelah direct printing diterapkan di badan pesawat, saya rasa kita akan masuk ke era baru dengan design2 revolusioner untuk livery dan colour scheme pesawat dan kita akan disuguhi dengan lukisan² indah di langit, atau dengan lukisan² yang bikin sakit mata.

BraniffDC8Calder
DC-8 ini lukisan indah atau lukisan bikin sakit mata? (Sumber: RuthAS/CC/FU)
OK… QUIZ TIME!
Pertanyaanya:

Sewaktu Airbus Innovation days, kami diberi tur fasilitas Airbus termasuk assembly line A320 family yang berada di Hamburg, dan ada Airbus A321 ini. Untuk siapakah A321 ini?

GreyTailA321
A321 berekor abu-abu (Sumber: Dok. Pribadi)

Silahkan kirim jawabannya berupa nama operator/maskapai, sebagai komentar di artikel ini atau di posting topik ini di Facebook Page GerryAirways. Kuis ini akan ditutup pada akhir tanggal 12 Agustus 2016. Pemenang akan dipilih Maverick Indonesia dari semua entry jawaban yang benar. Oh ya, hadiahnya?

AirbusGoodieBagPrize

1 Goodie Bag Airbus plus 1 model aircraft hasil 3-D printing dari Airbus (tidak ada foto).

Hint: Maskapai/operatornya ada di artikel ini dalam bentuk gambar atau tertulis.

Peraturan Kuis:
  1. Jawaban dikirim ke komentar topik ini atau posting terkait topik ini di halaman GerryAirways di Facebook.
  2. Hanya 1 entry per orang. Jika ada lebih dari 1 entry per orang maka jawaban pertamanya yang akan diterima.
  3. Kuis ditutup pada 12 Agustus 2016 pukul 23:59WIB.
  4. Pemenang akan dipilih oleh mitra Airbus untuk kuis ini, Maverick Indonesia.
  5. Hadiah akan dikirim oleh Maverick Indonesia ke alamat pemenang di Indonesia.
Bregier_Diversity0

Airbus CEO on Equality and Diversity: There is more than one way to skin a cat!

Explaining diversity and the challenges you face can be difficult when you have to be politically correct. This was more than proven when during Airbus Innovation Days 2016 (#AirbusID16) closing session in Hamburg on 31 May 2016, Airbus CEO Fabrice Brégier was asked about the lack of women and non-white executives presenting in #AirbusID16. This was what he had to say:

If it is difficult to decipher what was being said:

Q: There were no women, and almost entirely white people on this podium. What is Airbus doing about its diversity, and when can we expect to see people who better reflect your customers and indeed your passengers at these sort events?

A: In terms of diversity, I think we do a lot, and by the way if you go to Mobile, you will see many black people. So I invite you to see that we have a real diversity everywhere. My assistant is black, but this is not why I selected him, it is because he is very good.

(audience laughter)

Honestly, we are the most diverse integrated company in the world. I don’t talk about groups who have subsidiaries who manage locally. We have 4 main nationalities as you know in Europe, but we have, I think at Airbus, 100 nationalities. So we have Chinese, we have Indians, but not only locally, we try to have them onboard at Toulouse and Hamburg, and so, you will see, I’m sure that within the next 10 years, people who will take the top level management positions which will no longer be French, German, British, Spanish, or even American for John Leahy. Kieran Rowe by the way, who is our head of marketing and strategy, he is not black, but he is not totally white!

(audience laughter)

Another very important point is the gender diversity. We have not enough women, this is clear, and you could have come up with this remark which I think is more to the point, and we need to attract more women, and not just as Head of Communications, or Head of HR, (or) Legal, No! (We need them) In production, in engineering, in program management, in commercial.

As an example in our countries we have about 15% of women who graduate from engineering schools. This is not a lot. We have given to ourselves a target which is at least, to recruit in the new generation, I think (referring to Charles Champion), 20% – 25%, I think we set to ourselves a target of 25%, and we achieved a bit above 20%. But its a lot, we would recruit without taking care of that, we would limit ourselves to 15% at best.

We are deliberately trying to make additional efforts. This is only one example of what we are trying to do. I am a strong believer in diversity. I believe this can be the biggest weakness of the group if you do not align the people, but if you accept the diversity and you align them on common objectives, you are much stronger than a pure French, or even European company.

An editor of one of the world’s largest aviation media (let’s refer to him as A) correctly says,

A: (This video) of Airbus CEO could be a case study on how NOT to answer (a) question on lack of diversity.  (YouTube link to video above)

and this discussion that ensued on Twitter, which does sound rather quirky to me:

B: European aero community has been largely absent from the diversity discussions taking place in the US.

A: Factually, he is correct about Mobile. But not sure how that relates to diversity in Airbus executive ranks.

C: Factually correct but not the question answered and probably not the way to talk about diversity at all.

To those used to being in a politically correct and sanitized environment, the first part of Brégier’s answer might come across as shocking, if not horrific. But what is Fabrice Brégier’s main point on diversity? To put talent ahead of diversity of the sake of diversity, and to promote diversity among those who are talented. This is not a politically correct company on racial and gender equality through affirmative action (which in the UK, is deemed positive discrimination and is illegal), this is a company who chooses to be egalitarian in terms of opportunity, and that meritocracy within common objectives is more important than meeting quotas for management of the business.

The difference on American and European views of race, gender and equality, and how to go about it, have differences. As an example, affirmative action is illegal in the UK, and meritocracy is a valuable aspect of modern British society, with its history stronger on class discrimination rather than racial discrimination. We can see this in a separate Twitter discussion following the editor’s tweet on the video, makes more sense and seems to agree with the above paragraph:

D: Diversity does not equal talent. I’d rather know my engineers are capable… not diverse. Anyone who says otherwise is lying.

A: I would argue there’s likely a lot of untapped, diverse talent after checking the aerospace demographic stats.

D: What stats would those be? A quick search produced this (link) which says not many practicing engineers.

A: Exactly, which is the problem.

D: But that’s not Airbus’ problem if there isn’t talent to hire. And Mary’s little “gotcha” game is hack journalism. Not professional.

A: And, to be fair, Airbus is doing a lot to address the problem. Getting qualified, diverse talent in exec ranks would help, too.

But enough with my endless waffle of words. As an Indonesian, being in a society of what I call “xenofiliacs”, the judgement on diversity is in the evidence. The first Airbus employee that I was friends with was an Indonesian who was at Airbus Middle East, in sales and consulting. There are quite a few Indonesians in Airbus, one of which, I am told by an Air Asia employee, designed the A320 cabin for (Indonesia) Air Asia (which to me is amongst the most comfortable A320 family cabins around). And my only engagement outside #AirbusID16 during the recent visit to Hamburg was, to meet an Indonesian Airbus engineer who is a structural analyst at Airbus Germany (and this was just before the welcoming dinner on the Sunday).

AirbusHAM-A-Pram-1
L-R: Angkasa Senior Editor, Dudi Sudibyo; Airbus Germany Structure Analysist, Agus Pramono from Indonesia; Me.

I was brought up with the British education system, and am familiar with the British lack of political correctness regime. I was disturbed when I faced “political correctness” when I moved to Australia, where I was told, it was not as bad as the US. But I want to close this article by saying:

  • Yes, Fabrice Brégier’s assistant is black, and he was laughing when that point was being made. I guess those who do not agree with Fabrice Brégier’s way of saying it, did not see his assistant’s expression at the time and wonder what his views are on Airbus’ diversity policy and actions.
  • I, a non-white non-European, was also laughing when the audience laughed. We’re used to this kind of banter too. Words are words, we see the action, and in my view, Airbus is doing something about its need for better diversity. It’ll take time to see further results.

There is more than one way to skin a cat, hence, there is more than the American way to view and deal with racism and the need for better racial and gender inclusion, there is the European way (with a subset of the British way, German way, French way, Spanish way, etc), and the various Asian ways, and others, on how to create a more diverse and included workplace. Just because someone is different or has a different view, does not mean he/she is not answering your question.