Kontroversi dan liputan seputar musibah kecelakaan Sukhoi SSJ100 terus berlanjut meskipun sudah tidak lagi menjadi headline news terus menerus. Namun, sekarang banyak yang bertanya kesaya, “Jika pilot Sukhoi mengetahui resiko² yang dapt timbul dari kondisi lokal, kenapa mereka tidak didampingi pilot lokal?

Jawaban saya: YA! Di penerbangan pertama hari itu, mereka didampingi pilot lokal di kokpit.

Foto² dari penerbangan demo pertama, terlihat ada Capt. Setyaki dari Sky Aviation duduk di kursi flight observer diantara kedua pilot Sukhoi. Namun tidak ada informasi yang bisa didapatkan mengenai kapasitas/tugas apa yang dilakukan beliau dari kursi tersebut. Apakah beliau ditugaskan untuk mendampingi? Memberi tahu kondisi lokal sambil terbang? Atau hanya sebagai tamu?

Apapun alasannya, faktanya, dia berada disitu. Meskipun dia duduk disitu hanya sebagai “tamu khusus”, keberadaan dia tentunya menambah sepasang mata yang bisa mewaspadai situasi dari bahaya² unik daerah tersebut.

Mendekati AL, dengan Capt. Setyaki di flight observer seat
sambil mengambil foto sendiri

Kebetulan atau sialnya (tergantung dari sisi pandang kita masing²), beliau tidak hadir ikut penerbangan yang kedua. Saya yakin bahwa informasi yang bisa diberikan beliau dari kursi flight observer mengenai kondisi area tersebut dapat membantu.

Namun, jika beliau berada di kokpit pada penerbangan kedua, kehadiran beliau belum tentu bisa mencegah musibah ini. Alasan ini saya berikan karena saya sudah ber-tanya² dengan kawan² saya yang se-hari²nya terbang diatas Halim Perdanakusuma sewaktu berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta ke arah timur, dan mereka tidak tahu persisnya jarak dari Halim ke Gunung Salak dan Gunung Pangrango, karena tidak berada di jalur airway yang mereka lalui. Pilot pun berpikir dengan menggunakan zona², seperti yang digambarkan di peta mereka, yang mencantumkan area² seperti MSA (Minimum Sector Altitude) dan MORA (Minimum Off Route Altitude), yang dibuat dengan margin jarak keselamatan. Capt. Setyaki terbang di Sky Aviation, dan maskapai tersebut tidak terbang dari/ke Jakarta, sehingga, informasi yang dia berikan ke kedua pilot Sukhoi mungkin akan bersifat “umum” meskipun komplit.

Jika kursi flight observer diduduki oleh pilot yang sedang “sightseeing”, mungkin kah dia tahu pesawat sedang berada dimana dan sedang ke arah mana? Tentu! Saya bukan pilot, tetapi saya bisa membaca Navigation Display pesawat, dan juga Horizontal Situation Indicator yang terletak dibawah Artificial Horizon di panel masing² pilot, untuk bisa cepat mendapat gambaran kasar pesawat sedang dimana, ke arah mana, dan sedang ngapain, dari melihat langsung, atau melihat foto seperti yang ada disini:

Panel Ko-pilot (Photo oleh Andi D / @infohots)


Opini saya tetap tidak berubah. Keberadaan pilot lokal di kokpit pada penerbangan kedua belum tentu akan mencegah musibah ini, kecuali pilot lokal tersebut memang sering terbang di area tersebut (yang biasanya adalah pilot militer (yaitu pilot helikopter dari Atang Sanjaya, atau pilot transport dari Halim), atau student pilot atau flight instructor dari sekolah terbang yang sering menggunakan Bogor Training Area) baik secara visual maupun instrumen. Namun, kedua pilot ini, biasanya tidak masuk dalam daftar calon undangan terutama untuk ke kokpit dalam melakukkan sebuah penerbangan demo dalam kampanye penjualan pesawat komersil baru.

Leave a Reply