Tag Archives: 737

737320DDGMEL

Trying To Look Tough? Indonesia Grounds Aircraft Undergoing Maintenance

 

End of the Islamic holy month of Ramadhan is marked by the Eid-Al-Fitr holidays, in Indonesia that means peak season. It is usual for the ministry of transport to conduct ramp checks at the beginning of Ramadhan, to make sure that the fleet flying for the holidays are all airworthy. This year is no different. Ramp checks were done at 5 main airports (Jakarta Soekarno-Hatta (CGK/WIII), Surabaya Juanda (SUB/WARR), Bali Ngurah Rai (DPS/WADD), Medan Kualanamu (KNO/WIMM), and Makassar Hasanudin (UPG/WAAA)), between 27 May and 5 June.

“Sudah ada 133 pesawat di-ramp check untuk mengetahui sejak dini kesiapan armada melaksanakan angkutan di saat Lebaran,” jelas M Alwi ditemui detikcom di kantornya di Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (8/6/2016).

(“We conducted ramp checks on 133 aircraft to see the airline fleet’s readiness for the Eid-Al-Fitr Holidays,” explained M Alwi to detikcom in his office at the Ministry of Transport in Jakarta on wednesday 8 June 2016)

Ministry of Transport’s Director of Airworthiness and Aircraft Operations (DAAO), M Alwi, further explained, “We checked the aircraft, technical records and insurance policies of the aircraft. We checked the tires and the brakes. We only checked the aircraft and crew. Generally, the airlines are prepared. Spare tires, and brake sets were ready.”

Not all is well unfortunately, he also said he found 3 aircraft that had to be grounded during the ramp checks. He explained that 1 aircraft had a repetitive problem from 11 May to 5 June 2016, and the aircraft was grounded as a consequence, and that the aircraft now has to be repaired to find the cause of the errors. He also stated that the certificate for the engineer doing the repairs has been revoked. “That aircraft is an Air Asia Airbus A320,” he explained.

The second aircraft is a 737-300 from ExpressAir, registration PK-TXZ, which has had repeated reports of high temperature for engine number 1. “We grounded the aircraft. It can’t fly now until it is serviceable. That aircraft belongs to ExpressAir,” he revealed.

The third aircraft is a 737-300 from Sriwijaya Air, where an “engine number 1 head seal assembly error” was found. “That aircraft was recertified on 5 June and was grounded,” explained Alwi.

Such exercise is probably good for PR, and would impress the public, but this time, it seems that 2 of the airlines refused to play along with this “charade.”

Sriwijaya Air’s public explanation

Sriwijaya Air Head of Corporate Communications, Agus Soedjono, explained that the aircraft had already been taken off service when the ramp checks occured.

“The aircraft was not ramp-checked, it wasn’t operational. The aircraft had been scheduled to undergo renewal of the Certificate of Airworthiness. They placed it under the ramp-check category, but it was not,” said Agus Soejono.

The aircraft was not grounded because it was found to be non-airworthy while being in operational status. The aircraft was already taken offline by the airline as it was scheduled to undergo it’s C-Check.

 

Air Asia’s public explanation

Indonesia Air Asia Corporate Communications Baskoro Adiwiyono released a written statement on 9 June, stating that the aircraft that was ramp-checked by the DAAO was already in the middle of a maintenance monitoring and actions in accordance with the maintenance manuals from the aircraft manufacturers. He added that the actions taken were already agreed upon and is conducted with regular oversight by the Indonesian aviation regulators.

In addition, Baskoro also stated that all of Indonesia Air Asia engineers and technicians are certified by the regulators in order to be able to conduct their duties, and that all their technicians/engineers are qualified to undertake their tasks and that no one has had their certification/license revoked as a result of the ramp check finding.

Are Groundings Necessary Or Are They Just Trying To Look Tough?

I personally wonder, did the DAAO even check whether the aircraft were operating within the MEL (Minimum Equipment List) or DDG (Dispatch Deviations Guide) issued by the manufacturers (and approved by the DAAO)? Somehow I am not sure they did. I cannot comment on the ExpressAir case, because there is a lack of information, but my cynical self can’t help think that, maybe the temperature issue was just from concerned pilots that the engine temperature was higher than normal, but within the limitations.

As to the Sriwijaya Air and Air Asia case, I am having difficulty in finding the right expression or remark to use. The 737 was already taken offline and already scheduled for maintenance, I fail to see how that can be a finding in a ramp check, unless the inspectors didn’t know what they were doing (which is a much bigger concern to the industry as a whole). The A320, was still within the MEL limits and was being monitored and maintenance actions planned. This shouldn’t even be a finding unless again, the inspector didn’t know what they were doing. The claim of having revoked someone’s license/certificate that was refuted reveals another big worry, that is the inspectors may not only not know what they were doing, but they were making findings not because the findings needed to be made, but because they wanted to please their bosses by (erroneously) trying to act tough to the airlines.

737320DDGMEL

Ramp Check dan Retorika “Tidak ada toleransi untuk keselamatan udara!”

Dalam persiapan untuk peak-season Lebaran, Kemenhub melalui Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) serta Inspektorat Jendral (ItJen) melakukan ramp-check di 5 bandara besar (Jakarta Soekarno-Hatta (CGK/WIII), Surabaya Juanda (SUB/WARR), Bali Ngurah Rai (DPS/WADD), Medan Kualanamu (KNO/WIMM), dan Makassar Hasanudin (UPG/WAAA)) dari 27 Mei hingga 5 Juni.

“Sudah ada 133 pesawat di-ramp check untuk mengetahui sejak dini kesiapan armada melaksanakan angkutan di saat Lebaran,” jelas M Alwi ditemui detikcom di kantornya di Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (8/6/2016).

Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, M Alwi menjelaskan, “Yang diperiksa fisik pesawat, teknik pesawat serta policy pesawat. Sampai ban dan limit break kita cek. Kami hanya memeriksa pesawat dan kru. Umumnya pihak operator sudah menyiapkan diri. Ban, kampas pengereman sudah siap,” jelas Alwi.

Namun dijelaskan bahwa ramp check kali ini menghasilkan temuan terhadap 3 pesawat yang harus di grounded. 1 pesawat dikabarkan mengalami kerusakan berulang dari 11 Mei hingga 5 Juni dan akibatnya pesawat di grounded agar pesawat bisa diperbaiki dan dicari penyebab kerusakan tersebut. Selain itu Alwi menjelaskan juga bahwa sertifikat engineer yang melakukan reparasi, dicabut. Pesawat itu dari Maskapai Indonesia Air Asia, tipe Airbus 320,” jelas Alwi.

Pesawat kedua adalah Boeing 737-300 dari ExpressAir dengan registrasi PK-TXZ, yang dilaporkan mengalami temperatur tinggi pada mesin kiri dari 24 Mei hingga 28 Mei. “Pesawat itu kita grounded. Kalau sudah begitu nggak boleh terbang sampai serviceable,” ungkapnya.

Pesawat ketiga adalah pesawat Boeing 737-300 milik Sriwijaya Air, dimana pada mesin kiri ditemukan head seal assembly error. “Tanggal 5 Juni kemarin pesawat itu disertifikasi ulang dan di-grounded,” jelas Alwi.

Tentu saja aksi² seperti ini bagus buat konsumsi masyarakat awam bahwa Kemenhub menerapkan kebijakan “tak ada toleransi untuk keselamatan udara,” namun sepertinya 2 dari 3 maskapai diatas tidak mau tinggal diam saja dalam “sandiwara” ini!

Penjelasan Sriwijaya Air

Head of Corporate Communications untuk Sriwjaya Air, Agus Soedjono, menjelaskan bahwa pesawat yang dimaksud bukan dalam status operasional pada saat ramp check dilakukan.

“Itu posisi pesawat bukan di ramp check, bukan pada saat operasional. Pesawat itu memang di-schedule oleh Sriwijaya untuk mendapatkan renewal certificate of airworthiness (CofA). Nah itu dimasukkan kategori ramp check, padahal enggak,” ucap Senior Manager Corporate Communication Agus Soejono kepada detikcom, Rabu (8/6/2016).

Jadi, pesawat tersebut tidak di grounded karena ramp check menemukan pesawat berada dalam status operasional namun tidak layak terbang. Pesawat tersebut sedang tidak berstatus operasional karena pihak maskapai sudah menjadwalkannya untuk melakukan C-Check (pemeliharaan sedang/berat per 4000 jam terbang)!

Penjelasan Air Asia

Setelah penjelasan oleh pihak Sriwijaya Air, pada tanggal 9 Juni, pihak Air Asia Indonesia pun memberikan penjelasan melalui Head of Corporate Secretary and Communications AirAsia Indonesia Baskoro Adiwiyono.

Terkait dengan adanya temuan pada salah satu pesawat kami saat ramp check yang dilakukan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU), kami ingin menegaskan bahwa pesawat tersebut memang tengah berada dalam rangkaian proses perawatan dan pemantauan yang dilakukan oleh tim maintenance kami, sesuai dengan panduan yang dikeluarkan oleh pihak pabrikan pesawat.

Adapun program perawatan pesawat yang kami laksanakan telah mendapatkan persetujuan dan berlangsung dalam pemantauan secara berkala oleh pihak regulator di Indonesia.

Sehubungan dengan proses perawatan yang berlangsung, kami juga mengonfirmasikan bahwa seluruh teknisi AirAsia Indonesia memiliki sertifikat dari regulator serta melaksanakan tugas dalam koridor check and balance yang kami terapkan secara menyeluruh. Seluruh teknisi kami qualified dalam melaksanakan tugasnya, dan tidak ada satu orang pun yang dicabut sertifikatnya atas adanya temuan tersebut.

AirAsia Indonesia kembali ingin menekankan komitmennya pada kelancaran dan keselamatan operasional penerbangan serta kenyamanan penumpang, terutama jelang periode musim Lebaran tahun ini.

Dimana DirKUPPU M Alwi menjelaskan ada teknisi yang sertifikasinya dicabut, pihak Air Asia membantahnya dengan menjelaskan bahwa “tidak ada satu orang pun yang dicabut sertifikatnya atas adanya temuan tersebut.” Selain itu, kesimpulan dari penjelasan Air Asia tersebut adalah kerusakan berulang pada pesawat tersebut masih dalam penelusuran dan rektifikasi, dan pesawat masih layak terbang sesuai panduan yang dikeluarkan pabrik dan disetujui oleh pihak regulator Indonesia.

Jadi, Apa Maksud Dari Grounding² Ini?

Saya jadi berpikir, apakah yang melakukan inspeksi ramp check tersebut memeriksa apakah kerusakan² tersebut membuat pesawat tidak layak terbang sesuai dengan MEL (Minimum Equipment List) atau DDG (Dispatch Deviations Guide) untuk pesawat tersebut yang diterbitkan oleh pabrik pesawat dan disetujui oleh DKUPPU? Saya pribadi tidak  yakin. Saya juga tidak bisa berkomentar mengenai temuan untuk pesawat Expressair karena informasinya kurang, namun saya mulai berpikir, mungkinkah temperatur tinggi yang dilaporkan di mesin kiri pesawat yang menjadi temuan ramp check tersebut adalah karena kepedulian pilot mengenai kesehatan pesawatnya meskipun temperatur mesih tersebut masih dalam batas normal yang ditetapkan pabrik? Ya bisa saja!

Untuk kasus Sriwijaya Air dan Air Asia, saya sendiri hanya bisa geleng² kepala. 737 tersebut sudah dicabut dari penjadwalan terbang karena sudah dijadwalkan untuk melakukan perawatan, dan saya gagal paham kenapa hal tersebut menjadi temuan dalam ramp check, kecuali jika inspektur yang melakukan ramp check tersebut tidak mengerti (dan ini menjadi kekhawatiran yang lebih besar bagi industri penerbangan kita). A320nya pun sepertinya masih dalam batasan² yang diperbolehkan MEL, dan sedang di monitor sambil mencari penyebabnya. Lagi² ini seharusnya bukan menjadi finding dalam ramp check, kecuali inspekturnya tidak mengerti. Yang juga parah adalah klaim bahwa sertifikat engineer yang melakukan perbaikan terhadap pesawat tersebut dicabut sedangkan menurut maskapai hal tersebut tidak/belum terjadi.

Semua ini mengarah ke kesimpulan yang sangat mengkhawatirkan, bahwa temuan² dari ramp check tersebut bukanlah temuan² yang layak dilaporkan, tetapi adalah upaya pencitraan baik terhadap publik maupun atasan mereka bahwa mereka sedang tegas terhadap maskapai, tentunya dengan slogan, “kita tak ada toleransi untuk keselamatan udara.” Tidak ada toleransi? Lhapabrik pesawatnya sendiri memberikan toleransi melalui MEL dan DDG, dan itu disetujui pula oleh pihak regulator!