: Keselamatan

Blog-QZ7532-Cover

Heboh Go-Around: Akibat pembiaran dan eksploitasi ketidaktahuan.

Malam ini saya diganggu mengenai informasi terjadinya go-around penerbangan Indonesia Air Asia QZ7532 di Denpasar. Menurut informasi yang saya dapat, salah satu penumpang penerbangan tersebut complain ke Menteri Perhubungan, dan sumber lain mengatakan penumpang yang complain meng-claim melihat pesawat di runway ketika go-around.

Claim tersebut tentu sangat menarik, karena jika sedang go-around dan pesawat naik kembali searah dengan landasan, maka penumpang tidak mungkin bisa melihat runway, apalagi pesawat di runway. Penasaran, saya langsung mengecek kejadiannya.

Data ADSB QZ7532 CGK-DPS 26JUN

Sekilas pesawat terlihat melakukan go-around dan mendarat di approach berikut.

Blog-QZ7532-01
Data ADSB QZ7532 yang tertangkap oleh Flightradar24

Go-around dilakukan di ketinggian 1300ft, posisi pesawat pada saat memilai go-around adalah sekitar 8 kilometer dari landasan.

Blog-QZ7532-02
Posisi pesawat pada saat go-around dimulai menurut ADSB data dari Flightradar24
KALAU JAUH BEGINI NGAPAIN TAKUT DAN COMPLAIN SIH?

OK, takut itu wajar, tapi kalau complain bilang ini berbahaya, menurut saya agak terlalu.

Lalu, gimana dia bisa lihat landasan?

Ketika pesawat sudah sampai di ketinggian 3000 kaki, pesawat belok ke kanan, dan belok pada posisi sekitar 1 kilometer dari awal landasan. Jelas runway bisa dilihat, tapi posisinya masih jauh!

Lalu pesawat apa yang terlihat oleh si penumpang?

Mari kita lihat urutan kejadiannya. Pertama, kita harus identifikasi pesawat-pesawat yang terlibat dalam kejadian ini, dan daftarnya gak sedikit ternyata. Ada:

  • AWQ7532 PK-AZJ Airbus A320-200 CGKDPS (Indonesia Air Asia)
  • KLM836 PH-BVS Boeing 777-300ER DPSSINAMS (KLM Royal Dutch Airlines)
  • ANG394 P2-PXD Boeing 737-700 POMDPS (Air Niugini)
  • MXD307 9M-LNS Boeing 737-800 DPSKUL (Malindo)
Kronologi kerjadian (waktu dalam UTC)
1240:
KLM836 melakukan Pushback dari parking stand 27 Ngurah Rai, dan memblok taxiway utama antara taxiway N3 dan N4.

1245:

KLM836 mulai taxi menuju runway 09.

1254:
  • MXD307 melakukan pushback dari parking stand 22 Ngurah Rai, dan memblok taxiway utama antara N3 dan N4.
  • ANG394 berada di waypoint KUTA di ketinggian 3000 kaki dan melanjutkan approach.
1257:

AWQ7532 berada di waypoint KUTA di ketinggian 3000 kaki, dan memulai approach.

1258:

KLM836 menunggu ijin masuk ke runway 09 dari taxiway N7.

1259:

AWQ7532 berada di waypoint DD401 di ketinggian 3000 kaki dan melanjutkan approach.

1300:
  • ANG394 mendarat di runway 09.
  • KLM836 diijinkan masuk ke runway 09 setelah ANG394 lewat.
  • ANG394 keluar runway menggunakan taxiway N4, dan berhenti sebelum masuk ke apron karena didepannya ada MXD307 yang masih melakukan pushback dan start engine.
  • KLM836 siap berangkat namun harus menunggu karena ANG394 belum sepenuhnya keluar dari area runway.
1301:
  • AWQ7532 berada di waypoint DD402 (5 nautical mile atau 9 kilometer dari landasan) di ketinggian 1600 kaki dan memasuki fase final approach.
  • Pada ketinggian 1350 kaki, AWQ7532 memilai go around. Vertical speed pesawat berubah dari -700fpm menjadi +2000fpm dalam hitungan detik.
1302:

AWQ7532 melewati ketinggian 2000 kaki dengan vertical speed 2300fpm, dan pesawat berhenti naik di ketinggian 3000 kaki (yaitu target altitude dalam Missed Approach Procedure), lalu pesawat mengikuti Missed Approach Procedure yaitu belok kanan untuk kembali ke waypoint KUTA. Pesawat mulai belok sekitar 1/2 kilometer dari awal landasan 09.

1303:

ATC meminta AWQ7532 untuk naik ke ketinggian 6000 kaki dan diberikan radar vector (instruksi arah) guna separasi dengan traffic lainnya yang sedang menuju waypoint KUTA.

1304:

MXD307 diinstruksikan untuk ditarik kembali ke parking stand 22, kemungkinan besar karena ANG394 juga menghalangi main taxiway.

1305:
  • Setelah MXD307 ditarik kembali ke parking stand 22, ANG394 melanjutkan taxi menuju ke timur dan parkir di parking stand 30, 31 atau 32 (semuanya di sebelah timurnya N3)
  • Setelah ANG394 sepenuhnya keluar dari area runway, KLM836 memulai take off.
1306:
  • MXD307 kembali sepenuhnya berada di parking stand 22.
  • KLM836 mengudara.
1309:

MXD307 kembali melakukan pushback dari parking stand 22

1311:

MXD307 mulai taxi ke runway 09.

1316:

AWQ7532 kembali berada di waypoint DD401 di ketinggian 3000 kaki untuk melakukan approach.

1319:

MXD307 menunggu giliran masuk ke landasan.

1320:

QZ7532 mendarat di Ngurah Rai.

Kesimpulan dari kronologis kejadian

Setelah melihat urutan diatas, dapat disimpulkan bahwa asal muasal kejadian go-around ini dikarenakan Air Niugini yang keluar di taxiway N4 dan bukan N3 seperti pesawat 737/320 lainnya. Dikombinasikan dengan Malindo sedang pushback, maka terjadilah situasi dimana landasan tidak “clear” untuk KLM berangkat maupun untuk Air Asia mendarat. Jika Air Niugini keluar landasan menggunakan taxiway N3, maka tidak akan ada kejadian go-around yang diuraikan diatas.

Disini saya ingin menekankan bahwa pesawat Air Asia AWQ7532 disuruh go-around dengan posisi masih jauh dari landasan. Ini sama sekali tidak berbahaya, dan justru malah bagus dari pihak ATC memberikan instruksi go-around lebih awal dibanding telat (yang tentu akan sangat bisa dibuat lebih heboh lagi oleh pihak yang awam penerbangan). Kesigapan dari pihak ATC di kejadian ini patut diapresiasikan dan bukan disorot sebagai “bahaya” atau “resiko” atau “bom waktu” seperti beberapa pihak sensasionalis dan alarmis yang menurut saya malah bukan berkontribusi meningkatkan keselamatan penerbangan tetapi malah membahayakan keselamatan penerbangan dengan memberi tekanan yang tidak pantas bagi safety management system yang sudah jalan.

Alhasil dari aksi kaum “sensasionalis” dan “alarmis” yang dengan senang hati menunggangi kasus-kasus seperti ini, malah membuat regulator dan operator panik, bahkan takut tidak semestinya akan sorotan lebay, karena hasilnya hanyalah tenaga dan waktu yang seharusnya digunakan untuk melakukan risk assessment situasi yang ada, tergerus dengan perlunya memberikan tanggapan kepanikan yang tidak pada tempatnya.

Setelah heboh kejadian Go-Around antara Garuda dan Sriwijaya di bandara Soekarno-Hatta, kejadian yang satu ini di Bali, dikabarkan menghasilkan adanya undangan rapat dadakan untuk membahas ini, yang seharusnya cukup dengan tinjauan ringan melihat data yang ada yang menghasilkan uraian seperti yang saya buat diatas, dan dapat dengan cepat dan wajar, menyimpulkan bahwa pesawat yang go-around tidak pernah dalam situasi yang membahayakan lebih dari resiko yang wajar.

Jika hal-hal seperti ini disoroti dengan kepanikan atau “kekhawatiran lebay”, maka cenderung akan menghasilkan reaksi-reaksi dan/atau kebijakan-kebijakan baru yang bukannya membantu, tetapi malah menurunkan tingkat keselamatan penerbangan Indonesia, seperti yang terjadi di 2015-2016, dimana bertubi-tubi kebijakan reaktif mengenai keselamatan dikeluarkan, tapi hasilnya hanyalah tingkat kecelakaan penerbangan meningkat 100%. Setelah kebijakan-kebijakan tersebut sebagian dicabut dan suasana pengawasan penerbangan oleh regulator kembali seperti tahun 2014, hasilnya, tahun ini, sepertinya (kita masih harus tunggu hingga akhir tahun), accident rate penerbangan di Indonesia kembali menurun.

Api itu dipadamkan menggunakan pemadam yang sesuai, bukan disiram bensin!

QR-Laptop

Gocek-gocekan larangan barang elektronik di kabin oleh AS dan Inggris

Mulai 25 Maret, Amerika Serikat memberlakukan ketentuan keamanan baru untuk penerbangan dari Timur Tengah ke negaranya. Bandara-bandara yang dimaksud adalah:

  • Cairo (CAI/HECA)
  • Amman (AMM/OJAI)
  • Kuwait (KWI/OKBK)
  • Casablanca (CMN/GMMN)
  • Doha (DOH/OTHH)
  • Riyadh (RUH/OERK)
  • Jeddah (JED/OEJN)
  • Istanbul (IST/LTBA)
  • Abu Dhabi (AUH/OMAA)
  • Dubai (DXB/OMDB)

Beberapa hari kemudian, Inggris mengeluarkan peraturan yang sama untuk penerbangan ke Inggris, namun dengan daftar yang berbeda:

  • Semua bandara di Tunisia
  • Semua bandara di Turki
  • Semua bandara di Mesir
  • Semua bandara di Libanon
  • Semua bandara di Yordania
  • Semua bandara di Saudi Arabia

Larangannya mencantumkan bahwa penumpang dilarang membawa perangkat elektronika dalam kabin pesawat kecuali smartphone. Tablet, phablet, laptop, headphones besar, dan peralatan elektronika lainnya harus dimasukkan dalam bagasi terdaftar (checked baggage). Penumpang connecting flight, juga kena larangan ini. Untuk Inggris, larangannya berlaku di semua maskapai yang menerbangkan rute antara Inggris dan negara-negara tersebut.

Tentunya, larangan-larangan ini membawa kontroversi. Pemerintah Inggris mengakui hal tersebut:

“We understand the frustration that these measures may cause and we are working with the aviation industry to minimise any impact.” (Menteri Perhubungan Inggris, Chris Grayling)

Reaksi penumpang dan publik rata-rata sama, yaitu sebel dengan peraturan baru ini. Namun yang untuk adalah reaksi dari maskapai-maskapai dan dari industri penerbangan sendiri.

Kontroversi dan pengecualian bagi awak pesawat

Pada awal-awalnya, banyak yang khawatir karena banyak maskapai yang menggunakan laptop/tablet sebagai electronic flight bag (untuk membantu persiapan penerbangan), atau cabin service tool untuk awak kabin, belum lagi tablet sebagai Inflight Entertainment yang disediakan maskapai untuk penumpang-penumpang tertentu. Untungnya, awak pesawat masih diperbolehkan membawa gadgets mereka ke dalam kabin. Namun ini membawa kontroversi sendiri, karena asal usul larangan ini adalah karena potensi kelemahan pemeriksaan barang bawaan penumpang di bandara, dimana bom bisa dimasukkan dalam bentuk laptop, dan kejadian pada kasus Dallo Airlines di Somalia, staff bandara menyelundupkan bom berupa laptop kedalam bandara untuk diberikan penumpang yang bersekongkol. Kontroversinya, kan mungkin saja awak pesawat bersekongkol.

Kontroversi lainnya adalah permasalahan baterai Lithium-Ion. Baterai Lithium-ion berpotensi terbakar dan tidak bisa dimatikan dengan sistim pemadam dalam ruang bagasi pesawat karena cara memadamkannya adalah dengan mencelup baterai ke air atau es untuk mendinginkannya. Dengan larangan ini, maka, secara tidak langsung, banyak bom-bom kecil berupa baterai lithium-ion yang dimasukkan ke bagasi yang tidak bisa dipadamkan kalau terbakar! Pintar sekali solusi ini! Lalu kalau bom bisa diselundupkan masuk ke bandara, peraturan ini tidak bisa mencegah bom dalam laptop dimasukkan dalam bagasi pesawat menuju ke AS atau Inggris.

Langkah yang tepat yang pernah diambil pemerintah Inggris mengenai kelemahan ini terjadi tidak lama setelah kasus pesawat Metrojet meledak di gurun Sinai, dimana kecurigaan terhadal persekongkolan staff bandara dengan teroris, menghasilkan kebijakan sementara dimana di maskapai Inggris tidak ada yang mau menaikkan bagasi dari bandara Sharm-El-Sheikh (bagasinya diangkut ke bandara lain untuk dilakukan screening ulang sebelum dikiri).

Reaksi Maskapai: Beri Layanan Baru!

Ancaman ini nyata, namun sayangnya, penanganannya sepertinya dibuat terlalu tergesa-gesa, sehingga mengakibatkan banyak yang “salah kaprah” bagi penumpang yang melakukan connecting flight ke penerbangan menuju Inggris dan Amerika Serikat, dimana banyak yang keberatan jika laptop harus dimasukan bagasi dari bandara keberangkatan.

Pihak maskapai tentu tidak tinggal diam dengan larangan ini yang mengganggu kenyamanan penumpang, maka mereka mencari cara-cara yang membantu penumpang tanpa melanggar larangan tersebut.

Untuk penumpang connecting, diperbolehkan menggunakan laptop dan gadget mereka hingga saat boarding, dimana ada layanan penitipan barang-barang elektronik mereka, dimana barang-barang tersebut akan diletakkan di tempat khusus di ruang bagasi, dan akan diserahkan kembali ke penumpang setelah sampai di tujuan. Tentu ini akan jauh lebih aman dibanding laptop berharga kita dimasukan ke checked baggage biasa!

Mari kita lihat reaksi beberapa maskapai:

Emirates Airlines

Reaksi awal Emirates Airlines menurut saya agak mengecewakan, namun memang larangan ini cukup mendadak. Reaksi Emirates berawal dengan menepis masalah ini dengan hal berikut:

Penitipan barang-barang elektronika

Namun, dengan banyaknya penumpang yang khawatir akan keamanan barang-barang elektronik mereka, akhirnya Emirates membuka layanan penitipan:

Emirates menjelaskan bahwa penerbangan ke Amerika Serikat dari Dubai melalui Athena dan Milan tidak kena larangan barang elektronik tersebut. Bagi penerbangan yang lain menuju Amerika Serikat, penumpang yang transit atau connecting di Dubai diperbolehkan menggunakan peralatan elektronik mereka hingga saat sebelum boarding. Di boarding gate penumpang diminta untuk menyerahkan peralatan elektronik mereka yang tidak boleh masuk ke kabin, yang diletakkan di kontainer khusus di ruang bagasi, tidak dicampur dengan bagasi lainnya dalam kontainer tersebut. Ini demi keamanan barang-barang tersebut dari pencurian.

Peminjaman Laptop/Tablet

Layanan ini masih dalam pertimbangan di Emirates Airlines

Etihad Airways

Etihad Airways menyediakan 2 layanan:

Penitipan barang-barang elektronik

Bagi penumpang yang transit di Abu Dhabi, Etihad Airways menyediakan layanan penitipan yang ditempatkan sebelum titik pre-clearance imigrasi Amerika Serikat di bandara. Barang-barang tersebut akan disimpan menggunakan kotak khusus untuk diletakkan di ruang bagasi.

Peminjaman iPad dan WiFi gratis untuk First Class dan Business Class

Layanan ini mulai diselenggarakan pada 2 April 2017.

Qatar Airways

Seperti maskapai lainnya, reaksi awal Qatar Airways lebih mengarahkan penumpang untuk tidak terlalu memikirkan larangan yang berlaku dan menghibur diri dengan In-Flight Entertainment system yang ada.

Tentunya, banyak yang tidak mau dipaksa hanya menonton IFE pesawat ketika terbang selama 15 jam. Maka Qatar Airways mengingatkan, apa yang bisa dilakukan selama 15 jam dipesawat, mungkin karena kita semua sudah lupa bahwa ada kehidupan diluar dunia maya kita.

Namun, selain ini, akhirnya Qatar Airways mengeluarkan layanan tambahan terkait larangan ini:

Penitipan barang elektronik

Sama seperti maskapai lain yang memberikan layanan ini, namun layanan ini diberikan kepada semua penumpang yang akan terbang langsung ke Amerika Serikat, baik connecting passengers maupun penumpang lainnya. Barang-barang elektronik akan dimasukkan ke tas khusus yang dikumpulkan dalam kontainer khusus di bagasi.

Peminjaman laptop

Bagi penumpang First Class dan Business Class yang ingin bekerja selama perjalanan dapat meminjam laptop dari maskapai. Penyimpanan data dapat menggunakan USB flashdisk milik penumpang sendiri.

Royal Air Maroc

Maskapai Maroko ini tidak memberikan layanan yang khusus. Saya belum melihat ada pengumuman layanan penitipan barang-barang elektronik bagi connecting passengers, hal ini mungkin dikarenakan tidak banyak penumpang connecting menuju Amerika Serikat yang menggunakan maskapai ini. Namun maskapai ini terlihat mencoba menghibur calon penumpang dengan tweet-tweet berikut:

Selain “Enjoy A Movie”, ada juga “Play Sudoku”, “Have A Good Sleep”, “Do Some Exercises”, namun yang paling berkesan adalah:

Royal Jordanian

Sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, Royal Jordanian mempermainkan kekhawatiran akan efek terhadap larangan imigrasi, kunjungan dan lain-lain dengan kampanye media sosial yang cukup nyeleneh. Larangan barang-barang elektronik ini juga mendapatkan reaksi-reaksi yang mirip:

Penambahan jatah bagasi bagi penumpang kelas ekonomi

Royal Jordanian unik dalam aspek ini karena satu-satunya yang memberikan penambahan batas berat bagasi bagi penumpang kelas ekonomi ke semua tujuan di benua Amerika Utara akibat larangan barang-barang elektronik dari Amerika Serikat.

Lomba Puisi #Electronics Ban!

Tidak puas dengan reaksi-reaksi nyeleneh khas Yordania, maskapai ini malah menyelenggarakan lomba puisi terkait larangan ini!

Saudia

Maskapai Saudi Arabia ini cukup bereaksi cepat mengenai larangan barang-barang elektronikaĀ  oleh Amerika Serikat dan Inggris.

Penitipan alat-alat elektronika

Melihat kekhawatiran penumpang mengenai keamanan laptop dan tablet jika dimasukkan ke bagasi, Saudia menyelenggarakan layanan penitipan. Uniknya, Saudia hanyalah 1 dari 2 maskapai yang memberikan layanan ini untuk penerbangan ke Inggris, dimana maskapai lainnya hanya memberikan layanan ini untuk penerbangan ke Amerika Serikat saja.

Layanan Internet Gratis

Bedanya dengan layanan wi-fi gratis di maskapai lain terkait larangan barang-barang elektronika, layanan ini diberikan juga kepada penumpang kelas ekonomi.

Turkish Airlines

Maskapai ini bereaksi cukup cepat mengenai larangan oleh Inggris dan Amerika Serikat.

Penitipan barang-barang elektronika

Sama seperti Saudia, layanan penitipan di boarding gate diberikan untuk penerbangan menuju Amerika Serikat dan Inggris. Namun juga dijelaskan bahwa untuk penerbangan ke Inggris, kamera boleh masuk kedalam kabin pesawat. Selain itu, pengumuman Turkish Airlines juga jelas menerangkan bagaimana alat-alat elektronik tersebut dikembalikan ke penumpang di bandara tujuan.

Untuk menenangkan penumpang-penumpang yang khawatir akan keamanan barang-barang elektronik mereka, simak tweet yang satu ini:

Titip barang elektronik anda dan dapatkan wi-fi gratis

Satu layanan lagi yang unik dari Turkish Airlines, yaitu layanan wi-fi gratis tidak terbatas untuk penerbangan ke Amerika Serikat bagi penumpang yang menitipkan laptop/tablet sebelum boarding. Layanan ini juga tersedia bagi penumpang kelas ekonomi.

Bagaimana dengan maskapai-maskapai lain?

Maskapai-maskapai berikut

  • Egyptair
  • Kuwait Airways
  • Middle East Airlines
  • TunisAir
  • Semua maskapai Inggris yang terbang ke negara-negara yang kena larangan barang-barang elektronik oleh Inggris

Tidak mengeluarkan pengumuman khusus atau layanan khusus terkait larangan barang-barang elektronik di kabin pesawat, bahkan beberapa maskapai tidak memberikan pengumuman sama sekali.

Penutup

Dari kontroversi larangan barang elektronik ini, yang paling bikin saya bingung, geleng-geleng kepala, dan mungkin malu sebagai orang penerbangan Indonesia, adalah reaksi di Indonesia, namun saya rasa itu cocok untuk dibahas di artikel tersendiri.

citilink-note7-20-01-640

Koreksi Cepat Kesalahan Imbauan Citilink: Contoh Manajemen Yang Responsif

Kesalahan imbauan mengenai penggunaan perangkat eletronik khususnya Galaxy Note 7 yang terjadi di situs CitilinkĀ sudah di koreksi, diganti dengan himbauan yang tidak lagi ambigu dan menggunakan referensi yang sesuai sebagai maskapai penerbangan Indonesia.

citilink-note7-20-01
Imbauan oleh Citilink khusus Samsung Galaxy Note 7 yang telah dikoreksi dan diterbitkan hari ini (28 September)

Koreksi yang digunakan oleh Citilink antara lain adalah:

  • Status diubah dari imbauan menjadi larangan
  • KoreksiĀ butir kedua dari “Tidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam bagasi kabin pesawat” (yang salah dan ambigu) menjadi “Tidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam bagasi tercatat (checked baggage)
  • Mengubah acuan dari pengumumanĀ FAA ke surat edaran Kemenhub tanggal 13 September 2016 (SE 18 / 2016)
  • Mengubah “himbauan” menjadi imbauan sesuai KBBI (dimana saya sendiri juga salah di artikel sebelumnya)

citilink-note7-13-1329Saya sendiri cukupĀ cerewet kemarin kepada Citilink di Twitter dan Facebook setelah menulis artikel kemarin karena menurut saya tidaklahĀ fair jika sayapun tidak memberi tahu mereka atas kesalahan tersebut. Pemberitahuan sayapun ditanggapi dengan baik oleh tim sosmed Citilink.

Namun di Facebook beberapa kawan saya juga mengimbau pihak Citilink mengenai kesalahan yang terjadi.

citilink-note7-12-1326LangkahĀ² yang sudah diambil Citilink secara online:

  1. Penghapusan imbauan yang salahĀ di halaman Facebook resmi Citilink (kemarin malam)
  2. PenghapusanĀ tweet yang memuat imbauan yang salah tersebut di Twitter resmi Citilink (kemarin malam)
  3. Pengubahan gambar imbauan di halaman depan situs Citilink ke versi yang benar (kemarin malam masih ada tetapi siang ini sudah tidak ada).

Tim Sosmed tidakĀ ngeyel atau mencari pembenaran kesalahan yang terjadi dan mungkin mereka membutuhkan keputusan untuk menarik imbauanĀ² yang versi salah.Ā Reaction Time yang sekitar 6 jam memang belum ideal, namun sudah cukup cepat di dunia penerbangan Indonesia berdasarkan pengalaman saya. Saya sendiri sempat sedikit putus asa tadi malam ketika melihat imbauan yang salah masih tertayang di halaman web Citilink, namun 24 jam setelah pemberitahuan versi yang telah dikoreksi sudah menggantikan yang salah.

Yang palingĀ impressive buat saya adalah koreksi acuan yang dilakukan oleh Citilink dari pengumuman FAA ke surat edaran Kemenhub, untuk imbauanĀ² dan materiĀ² imbauan mengenai Samsung Galaxy Note 7 yang diterbitkan setelah 13 September 2016. Ini baru namanya maskapai penerbangan Indonesia!

Koreksi oleh Citilink ini menurut saya patut mendapat pujian, membuat kesalahan adalah manusiawi, dan ketika sadar akan terjadinya kesalahan maka langkahĀ² korektif langsung diambil untuk mencegah akibatĀ² yang tidak diinginkan.Ā Sifat inilah yang seharusnya diambil oleh sebuah maskapai penerbangan terutama dalam aspek keselamatan, dimana kesalahanĀ² yang terjadi harus diperbaiki, bukan dihukum atau ditutup-tutupi. Terima Kasih Citilink!

citilink-note7-11

Himbauan ambigu fatal Citilink mengenai Samsung Galaxy Note 7 butuh diganti secepatnya

RameĀ² masalah Galaxy Note 7 ini memerlukan himbauan yang jelas dan konsisten demi keselamatan bersama. Banyak maskapaiĀ² Indonesia yang menerbitkan himbauan mengenai Galaxy Note 7, dan rataĀ² benar. Namun pagi ini saya dikagetkan dengan kiriman gambar berikut yang terdapat sebuah kesalahan fatal:

citilink-note7-01

Ada yang tahu ini salahnya apa?
  • Apakah karena mengacu ke FAA dan bukan ke Kemenhub? OK, ini memang masalah tetapi bukan yang saya ingin utarakan di artikel ini.
  • Apakah masalah himbauan yang seharusnya menjadi larangan? Bukan itu juga.
Jadi apa dong?

Coba lihat butir kedua himbauan tersebut:

ā€œTidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam bagasi kabin penumpangā€

Masalahnya dimana? Penggunaan kata ā€œbagasi kabin penumpangā€ sedikit berpotensi ambigu, namun pengertian saya adalah saya tidak diperkenankan menyimpan perangkat ini dalam tas di kabin penumpang. Artinya, harus saya bawa diluar tas saya, atau saya masukan ke bagasi yang tidak berada di kabin penumpang.

Ini kok jadi aneh yah? Citilink menggunakan edaran FAA sebagai sumber. Edaran FAA tersebut menyatakan:

In light of recent incidents and concerns raised by Samsung about its Galaxy Note 7 devices, the Federal Aviation Administration strongly advises passengers not to turn on or charge these devices on board aircraft and not to stow them in any checked baggage.

Lha, FAA sendiri menghimbau agar penumpang tidak menyimpan Galaxy Note 7 di bagasi yang di check-in, alias tidak masuk di bagasi yang tidak berada di kabin penumpang. Kok Citilink malah menganjurkan agar tidak menyimpan perangkat ini di bagasi kabin penumpang (artinya, disuruh masukin di bagasi yang tidak berada di kabin penumpang).

KOK BISA?

Ini menurut saya merupakan masalah pengertian Bahasa Inggris yang cukup fatal. Di situs Citilink, himbauan ini juga dipasang.

citilink-note7-10

Anehnya, disitu ada tertulis running text himbauan mengenai Galaxy Note 7, dimana tertulis:

Demi menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan bersamaĀ  Citilink Indonesia mengimbau kepada seluruh penumpang untuk menonaktifkan seluruh peralatan elektronik, terutama Samsung Galaxy Note 7, dan tidak melakukan pengisian baterai selama penerbangan, serta tidak memasukkannya ke dalam bagasi.

Nah, ini baru konsisten dengan himbauan dari FAA (dan Kemenhub).

LHA KOK BEDA SAMA YANG GAMBAR DI HALAMAN SITUS YANG SAMA?

citilink-note7-11

Saya pribadi ingin tahu sebenernya, Citilink ini maskapai Indonesia atau maskapai Amerika Serikat? Bukankan maskapai Indonesia harusnya patuh terhadap peraturan Indonesia dan bukan peraturan negara lain? Mungkin akan ada yang mengeles bahwa ā€œwaktu itu kan yang ngeluarin FAA duluan, abis itu baru diikuti oleh Kemenhub.ā€ OK baiklah, memang benar, Kemenhub baru mengeluarkan surat edaran mengenai Galaxy Note 7 ini pada hari kerja pertama setelah FAA mengeluarkan himbauannya (maklum, waktu itu memang long weekend Idul Adha). Apa sih isi edaran Kemenhub tersebut?

se18-2016-note7-2

se18-2016-note7-1

Kita lihat edaran tersebut menggunakan bahasa yang tidak ambigu, dimana edaran meminta dengan sangat untuk tidak menempatkan baterai lithium, power bank, dan Samsung Galaxy Note 7 dalam bagasi tercatat (checked baggage).

Pertanyaan saya sekarang adalah akankah himbauan Citilink tersebut diubah agar selaras dengan surat edaran Kementerian Perhubungan dan FAA? Menurut saya, kalau mengutip himbauan FAA saja tidak benar, sebaiknya dasar acuan himbauan maskapai ini diubah dari FAA ke Kemenhub daripada bikin bingung dan mungkin malah maluĀ²in. Yang pasti himbauan yang ambigu dan berpotensi mengakibatkan kesalahan fatalĀ dilapangan, harus diganti dengan yang konsisten dan tidak ambigu secepatnya!

Laser_pointer_safety_distances.svg

Apakah Melaporkan Serangan Laser Itu Cukup? Sepertinya Tidak!

Beberapa malam yang lalu ketika sedang akan mendarat di bandara Soekarno-Hatta, teman saya (penumpang) yang sedang duduk di kiri disoroti cahaya laser yang sengaja diarahkan ke pesawat. Saya juga pernah kena 2 laser yang berbeda ketika mau mendarat di Soekarno-Hatta di malam hari, dan juga pernah setelah lepas landas dari bandara Juanda.

Bila ini cukup mengagetkan bagi penumpang, tentu ini mebahayakan bilamana pilot terganggu dengan cahaya laser tersebut. Di kasus saya yang di Soekarno-Hatta, saya melaporkan kejadian tersebut ke kapten dan beliau malah mengeluh, “saya sudah capek ngelaporinnya mas…” Salah satu kasus serangan laser yang paling “nekat” adalah ketika sebuah pesawat hendak lepas landas dari Ahmad Yani di Semarang disoroti laser ketika memasuki landasan, mengakibatkan penundaan seama beberapa menit.

Saya yakin kebanyakan dari pelaku serangan laser ini sebenarnya hanyalah usil, tapi apakah mereka sadar akan potensi akibat dari yang mereka lakukan? SeranganĀ² ini paling berbahaya terjadi di malam hari karena mata sudah beradaptasi dengan lingkungan cahaya rendah sehingga mata menjadi sangat sensitif terhadap cahaya dan cenderung akan kesilauan bila disoroti cahaya. Struktur mata kita akan mengamplifikasi cahaya melalui lensa mata dan dapat mengganggu bahkan merusak retina kita yang mendeteksi cahaya untuk penglihatan kita. Kerusakan permanen pada retina mata resikonya bisa dianggap masih kecil, namun bahaya dari gangguan sementara sangatlah besar, dari kaget, silau, hingga kehilangan konsentrasi.

Ketika disoroti laser, efek pertamanya biasanya kaget… bila ini terjadi pada saat fase approach, cahaya bisa mengakibatkan kesilauan yang membuat lampu landasan yang hendak didarati susah dilihat. Makin lama mata kita kesilauan, makin susah mata kita melihat cahaya lain, dan setelah itu mata kita bisa mengalami kebutaan sementara. MasingĀ² efek tersebut sangat berbahaya, terutama kebutaan sementara yang mirip dengan efek mata kena flash kamera, namun pemulihan bisa memakan waktu lebih lama hingga beberapa menit tergantung dengan kekuatan dan lama pancaran cahaya yang terjadi.

HimbauanĀ² dari regulator telah Apakah Melaporkan Serangan Laser Cukup? Sepertinya Tidak!Apakah Melaporkan Serangan Laser Cukup? Sepertinya Tidak!diterbitkan untuk menjaga keselamatan penerbangan, namun sayangnya sepertinya pelaporan serangan laser oleh pilot tidak cukup untuk menghasilkan tindakan yang siginifikan terhadap pelakuĀ². Mungkin ini dikarenakan selama ini pengoperasian pesawat tidak terlalu terganggu, namun dikhawatirkan hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran pilot akan efekĀ² serangan laser terhadap kinerja mereka. Lalu, pada bulan Februari terjadilah sebuah kasus serangan laser yang membuat penumpang mulai merasa terancam dari serangan laser, dimana sebuah pesawat Virgin Atlantic yang berangkat dari bandara Heathrow di London diserang laser pada ketinggian 8000 kaki. Crew pesawat melaporkan kejadian tersebut dan melanjutkan penerbangannya menuju benua Amerika, namun ketika mereka hendak keluar dari wilayah Irlandia, pesawat meminta untuk kembali ke London karena mata kopilot masih terganggu penglihatannya. Crew pun menyatakan status pesawat mereka sebagai PAN, yaitu kondisi darurat 1 tingkat dibawah MAYDAY (kondisi darurat paling serius).

Di Inggris, 8998 serangan laser dilaporkan antara tahun 2009 hingga Juni 2015. Hal ini mendorong asosiasi pilot airline Inggris, BALPA, untuk mengeluarkan himbauan mengenai serangan laser, 2 minggu sebelum kejadian yang menimpa Virgin Atlantic. Dalam himbauan tersebut…

ADVICE TO PILOTS EXPERIENCING A LASER ILLUMINATION EVENT
  • Shield the eyes from the light source with a hand or a hand-held object and avoid looking directly into the beam. It is possible that a laser successfully aimed at the flight deck will be presaged by unsuccessful attempts to do so; these will be seen as extremely bright flashes coming from the ground and/or visible in the sky near the aircraft. Treat these flashes as a warning you are about to be targeted and prepare to shield the eyes. Do not look in the direction of any suspicious light.
  • Alert the other crew member(s) using the phrase ā€œLaser Attackā€ (initially assume you have been deliberately targeted and anticipate further illuminations) and determine whether they have suffered any laser-related effects. If the other front seat pilot has not been affected, he or she should immediately assume or maintain control of the aircraft.
  • Avoid rubbing eyes to reduce the potential for corneal abrasion.
  • Manoeuvre to block the laser, if possible and subject to ATC coordination. If on approach, consider a go-around.
  • Engage the autopilot.
  • After regaining vision, check flight instruments for proper flight status.
  • Turn flight deck lighting to maximum brightness to minimise any further illumination effects.
  • Immediately report the laser strike to ATC, including the direction and location of the laser source, beam colour and length of exposure (flash, pulsed and/or perceived intentional tracking). Do not look directly into the beam to locate the source. Consider declaring an emergency.
  • As soon as flight safety allows, check for dark/disturbed areas in vision, one eye at a time.
  • If incapacitated, contact ATC for priority/emergency handling. Consider using autoland.
  • If symptoms persist, obtain an eye examination as soon as practicable.
  • File an MOR. Reporting of laser strikes (and indeed interference from any high powered light) is mandatory under both the ANO and EU Regulations. In the UK, ATC will notify the Police. When possible, write down all details for the Police. Give serious consideration as to how the flight was affected.
  • If the normal procedures of a flight have been disrupted, especially if a hand over of control has been required, then do not refrain from declaring that there was ā€œendangermentā€ of flight upon a laser strike. This will allow perpetrators to be prosecuted under Article 137, as opposed to solely Article 222. This will give the courts the option to impose significant punishments that will, hopefully, attract media attention and act as a deterrent to others.
  • If rostered for further flight sectors, consider whether you are physically and psychologically still fit to fly even if your self-assessment indicates no visual impairment. It is for individual flight crew to determine their fitness to fly in such circumstances, regardless of operator policy.

https://www.balpa.org/Emergency-help/Laser-Attack.aspx

Hal yang menarik disini dan mungkin bisa digunakan di Indonesia adalah:

  • Bila serangan terjadi pada fase approach, mungkin ada baiknya untuk melakukan go-around. Hal ini menurut saya sangat penting karena menjadi bukti bahwa serangan laser membahayakan dan mengganggu kegiatan penerbangan. Kalau cuman ā€œoh kena, bikin laporanā€ dan meneruskan kegiatan tanpa ada ā€œakibatā€ maka kesadaran akan bahaya ini tidak akan terusik, dan aksi oleh penegak hukum bisa tidak terjadi. Bayangkan kalau misalnya ada orang usil menembak laser ke pesawat, lalu beberapa pesawat berturut-turut go-around, tentu ā€œawarenessā€ akan masalah ini akan melunjak dengan cepat, belum lagi efek dari pelaporan penumpang ke media.
  • Bila sampai terjadi pemindahan kendari dari 1 pilot ke pilot yang lain akibat serangan laser, janganlah enggan menggunakan kata ā€œmembahayakanā€ dalam laporan baik lisan ke pihak manapun (termasuk penumpang), ini agar memungkinkan penyidikan menyimpulkan bahwa bahaya yang terjadi adalah nyata. Ini bisa dikaitkan dengan pasal terhadap aksi yang membahayakan (terutama sengaja membahayakan) penerbangan.
  • Bila diperlukan, declare emergency, ini juga akan memaksa insiden diusut.
  • Jika crew dijadwalkan melanjutkan penerbangan lagi, ada baiknya melakukan self-assessment selain masalah penglihatan, yaitu fisik dan psikologis mengenai kelayakan diri untuk melanjutkan jadwal, terlepas dari kebijakan maskapai.

Saya rasa sudah waktunyaĀ  masalah serangan laser ini ditanggapi serius oleh semua pihak, demi keselamatan bersama dan kelangsungan kegiatan penerbangan. Kalau hanya sekedar ā€œmelaporkan ada gangguan sinar laserā€ saja, saya tidak bisa menyalahkan sang kapten yang bilang ke saya, “saya sudah capek ngelaporinnya mas…”

Masyarakat, terutama penumpang pesawat terbang butuh merasa langsung dampak dari bahaya ini, missal seperti diatas, melakukan go-around (atau bahkan divert bila kejadian menimpa beberapa pesawat sekaligus). Janganlah enggan mengumumkan telah terjadinya serangan laser kepada penumpang agar mereka tahu seberapa seringnya ini terjadi.

Keterbukaan masalah serangan laser ini akan membawa pengertian di pihak masyarakat dan stakeholders terkait. Selama kita hanya sekedar melaporkan dan tidak memberikan informasi tersebut kepada penumpang setiap kali ada kejadian, saya sangat pesimis masalah ini akan terselesaikan.

ASHTAM-2010715-1

Bandara Malang tutup lagi karena debu vulkanik

Siang ini (15 Juli) Bandara Abdulrachman Saleh, MalangĀ (MLG/WARA) ditutup kembali hingga (sementara ini) 0900WIB 16Ā Juli dikarenakan debu vulkanik. Sekilas, ASHTAM yang diterbitkan oleh VAAC Darwin untuk soreĀ ini menunjukkan Malang berada di dalam prakiraan sebaran debu vulkanik hingga esok pagi.

VA ADVISORY
DTG: 20160715/0700Z
VAAC: DARWIN
VOLCANO: TENGGER CALDERA 263310
PSN: S0757 E11257
AREA: INDONESIA
SUMMIT ELEV: 2329M
ADVISORY NR: 2016/369
INFO SOURCE: HIMAWARI-8
AVIATION COLOUR CODE: ORANGE
ERUPTION DETAILS: VA LAST OBS TO FL100 EXT TO NW AT 15/0230Z
OBS VA DTG: 15/0700Z
OBS VA CLD: SFC/FL100 S0745 E11241 – S0756 E11237 – S0759
E11258 – S0755 E11259 MOV NW 5KT
FCST VA CLD +6 HR: 15/1300Z SFC/FL100 S0805 E11237 – S0758
E11258 – S0754 E11258 – S0750 E11236
FCST VA CLD +12 HR: 15/1900Z SFC/FL100 S0755 E11231 – S0809
E11235 – S0758 E11259 – S0754 E11258
FCST VA CLD +18 HR: 16/0100Z SFC/FL100 S0759 E11227 – S0815
E11233 – S0758 E11259 – S0754 E11258
RMK: VA UNIDENTFIABLE ON CURRENT IMAGERY DUE TO MET CLOUD,
HOWEVER VA STILL EXPECTED IN AREA. HEIGHT AND MOVEMENT
DERIVED FROM HIMAWARI-8 IMAGERY, SURABAYA 15/0000Z IMAGERY
AND MODEL GUIDANCE.
NXT ADVISORY: NO LATER THAN 20160715/1300Z

Menurit ASHTAM tersebut, Bandara tersebut baru akan bebas dari debu vulkanik esok pagi, namun berdasarkan posisi proyeksi penyebaran debu vulkanik dibawah ini, bila prakiraan ini tepat maka resiko bandara tetap tutup besok pagi masih cukup tinggi.

ASHTAM-2010715-1

Kepada pembaca GerryAirways, maupun kerabatnya atau sanak saudaranya yangĀ telahĀ memiliki jadwal terbang dari/ke Malang sore ini maupun besok, dihimbau untuk secara berkala menghubungi pihak maskapai untuk mencari kabar perubahan jadwal, pembatalan penerbangan, maupunĀ pengalihan jadwal keĀ bandara lain (Surabaya) serta sarana pendukung pengalihan tersebut (misal: apakah disediakan transportasi Malang – Surabaya).

Untuk update terkini mengenai penyebaran debu vulkanik, silahkan menuju:

http://www.bom.gov.au/products/IDD65300.shtml

ALERT: Bandara Malang tutup hingga 12 Juli 0900WIB karena debu vulkanik

Bandara Abdulrachman Saleh, MalangĀ (MLG/WARA) ditutup hingga 0900WIB 12 Juli dikarenakan debu vulkanik. 1 pesawat dikabarkan melewati debu vulkanik dekat bandara tersebut pagi ini. Sekilas, ASHTAM yang diterbitkan oleh VAAC Darwin untuk pagi ini menunjukkan Malang berada di pinggir prakiraan sebaran debu vulkanik.

ASHTAM-IDD65300

NOTAM penutupan bandara:

MLGNotam

Untuk update terkini mengenai penyebaran debu vulkanik, silahkan menuju:

http://www.bom.gov.au/products/IDD65300.shtml

AMA_accident1

Cessna Caravan AMA hancur di Lolat, Yahukimo, Papua Barat

Pada pagi hari tanggal 14 Juni 2016, Sebuah pesawat Cessna 208B Caravan milik PT AMA (Associated Mission Aviation) beregistrasi PK-RKCĀ hancur setelah mengalami kecelakaan pada saat melakukan pendaratan di Lolat, Kabupaten Yahukimo, Papua Barat. Tidak ada korban jiwa pada kecelakaan ini namun 2 orang cedera.Ā  Continue reading

RussianKnights-2

Seluruh Armada Sukhoi Su-27 Rusia Di Grounded Sementara

Menurut biro press Rusia, TASS, akibat jatuhnya pesawat Sukhoi Su-27 tim aerobatik Angkatan Udara Rusia, Russian Knights kemarin yang merengut nyawa pilotnya, Panglima Angkatan Udara Rusia, Kolonel-Jendral Viktor Bondarev telah memerintahkan agar seluruh armada Sukhoi Su-27 Rusia di grounded. Grounding ini berlaku hingga penyebab kecelakaan kemarin ditemukan.

Kementerian pertahanan Rusia mengkonfirmasi pesawat jatuh ketika tim aerobatik tersebut sedang kembali menuju pangkalan udara. 6 pesawat Russian Knights ikut serta dalam acara peresmian monumen penerbang Rusia di desa Anushkino, didekat Moskow, Kamis 9 Juni, dan hanya 5 pesawat yang kembali ke pangkalan udara. Pesawat yang jatuh ditemukan di tengah hutan sekitar 2 kilometer dari desa Muranovo dekat Anushkino.

Wakil Menteri Pertahanan Rusia Yuri Borisov dan Panglima Angkatan Udara Viktor Bondarev hadir dalam acara tersebut.

737320DDGMEL

Ramp Check dan Retorika “Tidak ada toleransi untuk keselamatan udara!”

Dalam persiapan untukĀ peak-season Lebaran, Kemenhub melalui Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) serta Inspektorat Jendral (ItJen) melakukanĀ ramp-check di 5 bandara besarĀ (Jakarta Soekarno-Hatta (CGK/WIII), Surabaya Juanda (SUB/WARR), Bali Ngurah Rai (DPS/WADD), Medan Kualanamu (KNO/WIMM), dan Makassar Hasanudin (UPG/WAAA)) dari 27 Mei hingga 5 Juni.

“Sudah ada 133 pesawat di-ramp check untuk mengetahui sejak dini kesiapan armada melaksanakan angkutan di saat Lebaran,” jelas M Alwi ditemui detikcom di kantornya di Kemenhub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (8/6/2016).

Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara, M Alwi menjelaskan, “Yang diperiksa fisik pesawat, teknik pesawat serta policy pesawat. Sampai ban dan limit break kita cek. Kami hanya memeriksa pesawat dan kru. Umumnya pihak operator sudah menyiapkan diri. Ban, kampas pengereman sudah siap,” jelas Alwi.

Namun dijelaskan bahwaĀ ramp checkĀ kali ini menghasilkan temuan terhadap 3 pesawat yang harus diĀ grounded. 1 pesawat dikabarkan mengalami kerusakan berulang dari 11 Mei hingga 5 Juni dan akibatnya pesawat diĀ grounded agar pesawat bisa diperbaiki dan dicari penyebab kerusakan tersebut. Selain itu Alwi menjelaskan juga bahwa sertifikat engineer yang melakukan reparasi, dicabut.Ā Pesawat itu dari Maskapai Indonesia Air Asia, tipe Airbus 320,” jelas Alwi.

Pesawat kedua adalah Boeing 737-300 dari ExpressAir dengan registrasi PK-TXZ, yang dilaporkan mengalami temperatur tinggi pada mesin kiri dari 24 Mei hingga 28 Mei.Ā “Pesawat itu kita grounded. Kalau sudah begitu nggak boleh terbang sampai serviceable,” ungkapnya.

Pesawat ketiga adalah pesawat Boeing 737-300 milik Sriwijaya Air, dimanaĀ pada mesin kiri ditemukanĀ head seal assembly error. “Tanggal 5 Juni kemarin pesawat itu disertifikasi ulang dan di-grounded,” jelas Alwi.

Tentu saja aksiĀ² seperti ini bagus buat konsumsi masyarakat awam bahwa Kemenhub menerapkan kebijakan “tak ada toleransi untuk keselamatan udara,” namun sepertinya 2 dari 3 maskapai diatas tidak mau tinggal diam saja dalam “sandiwara” ini!

Penjelasan Sriwijaya Air

Head of Corporate Communications untuk Sriwjaya Air, Agus Soedjono, menjelaskan bahwa pesawat yang dimaksud bukan dalam status operasional pada saat ramp check dilakukan.

“Itu posisi pesawat bukan di ramp check, bukan pada saat operasional. Pesawat itu memang di-schedule oleh Sriwijaya untuk mendapatkan renewal certificate of airworthiness (CofA). Nah itu dimasukkan kategori ramp check, padahal enggak,” ucap Senior Manager Corporate Communication Agus Soejono kepada detikcom, Rabu (8/6/2016).

Jadi, pesawat tersebut tidak diĀ grounded karenaĀ ramp check menemukan pesawat berada dalam status operasional namun tidak layak terbang. Pesawat tersebutĀ sedang tidak berstatus operasional karena pihak maskapai sudah menjadwalkannya untuk melakukan C-Check (pemeliharaan sedang/berat per 4000 jam terbang)!

Penjelasan Air Asia

Setelah penjelasan oleh pihak Sriwijaya Air, pada tanggal 9 Juni, pihak Air AsiaĀ Indonesia pun memberikan penjelasan melaluiĀ Head of Corporate Secretary and Communications AirAsia Indonesia Baskoro Adiwiyono.

Terkait dengan adanya temuan pada salah satu pesawat kami saat ramp check yang dilakukan oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU), kami ingin menegaskan bahwa pesawat tersebut memang tengah berada dalam rangkaian proses perawatan dan pemantauan yang dilakukan oleh tim maintenance kami, sesuai dengan panduan yang dikeluarkan oleh pihak pabrikan pesawat.

Adapun program perawatan pesawat yang kami laksanakan telah mendapatkan persetujuan dan berlangsung dalam pemantauan secara berkala oleh pihak regulator di Indonesia.

Sehubungan dengan proses perawatan yang berlangsung, kami juga mengonfirmasikan bahwa seluruh teknisi AirAsia Indonesia memiliki sertifikat dari regulator serta melaksanakan tugas dalam koridor check and balance yang kami terapkan secara menyeluruh. Seluruh teknisi kami qualified dalam melaksanakan tugasnya, dan tidak ada satu orang pun yang dicabut sertifikatnya atas adanya temuan tersebut.

AirAsia Indonesia kembali ingin menekankan komitmennya pada kelancaran dan keselamatan operasional penerbangan serta kenyamanan penumpang, terutama jelang periode musim Lebaran tahun ini.

Dimana DirKUPPU M Alwi menjelaskan ada teknisi yang sertifikasinya dicabut, pihak Air Asia membantahnya dengan menjelaskan bahwa “tidak ada satu orang pun yang dicabut sertifikatnya atas adanya temuan tersebut.” Selain itu,Ā kesimpulan dari penjelasan Air Asia tersebut adalah kerusakan berulang pada pesawat tersebut masih dalam penelusuran dan rektifikasi, danĀ pesawat masih layak terbang sesuai panduan yang dikeluarkan pabrik dan disetujui oleh pihak regulator Indonesia.

Jadi,Ā Apa Maksud DariĀ GroundingĀ² Ini?

Saya jadiĀ berpikir, apakah yang melakukan inspeksiĀ ramp check tersebut memeriksa apakah kerusakanĀ² tersebut membuat pesawat tidak layak terbang sesuai dengan MEL (Minimum Equipment List)Ā atauĀ DDGĀ (Dispatch Deviations Guide) untuk pesawat tersebut yang diterbitkan oleh pabrik pesawat danĀ disetujui oleh DKUPPU? Saya pribadi tidak Ā yakin. Saya juga tidak bisa berkomentar mengenai temuan untuk pesawat Expressair karena informasinya kurang, namun saya mulai berpikir, mungkinkah temperatur tinggi yang dilaporkan di mesin kiri pesawat yang menjadi temuanĀ ramp check tersebut adalah karena kepedulian pilot mengenai kesehatan pesawatnya meskipun temperatur mesih tersebut masih dalam batas normal yang ditetapkan pabrik? Ya bisa saja!

Untuk kasus Sriwijaya Air dan Air Asia, saya sendiriĀ hanya bisa gelengĀ² kepala. 737 tersebut sudah dicabut dari penjadwalan terbang karena sudah dijadwalkan untuk melakukan perawatan, dan saya gagal paham kenapa hal tersebut menjadi temuan dalamĀ ramp check, kecuali jika inspektur yang melakukanĀ ramp check tersebut tidak mengerti (dan ini menjadi kekhawatiran yang lebih besar bagi industri penerbangan kita). A320nya pun sepertinya masih dalam batasanĀ² yang diperbolehkan MEL, dan sedang di monitor sambil mencari penyebabnya. LagiĀ² ini seharusnya bukan menjadiĀ finding dalamĀ ramp check, kecuali inspekturnya tidak mengerti. Yang juga parah adalah klaim bahwa sertifikat engineer yang melakukan perbaikan terhadap pesawat tersebut dicabut sedangkan menurut maskapai hal tersebut tidak/belum terjadi.

Semua ini mengarah ke kesimpulan yang sangat mengkhawatirkan, bahwa temuanĀ² dariĀ ramp check tersebut bukanlah temuanĀ² yang layak dilaporkan, tetapi adalah upaya pencitraan baik terhadap publik maupun atasan mereka bahwa mereka sedang tegas terhadap maskapai, tentunya dengan slogan, “kita tak ada toleransi untuk keselamatan udara.” Tidak ada toleransi?Ā Lha,Ā pabrik pesawatnya sendiri memberikan toleransi melalui MEL dan DDG,Ā dan itu disetujui pula oleh pihak regulator!